Cerita Dana

Karena hidup adalah tentang bercerita

Wanita Penghibur Malam

with 4 comments

Dentum musik memekakkan isak
Temaram menyembunyikan mesum
Pada sepetak malamnya Jakarta
Memenuhi nafsu para pemburu malam

Wanita itu terus bergemulai
Memancing birahi-birahi menuju puncak
Untuk sebuah harga yang merelakan enggan
Rintihan sesal tertelan kebutuhan tak tertahan
Akan mimpi hari esok yang lebih baik.

Pagi menyapa sejuknya Jakarta
Menyembunyikan busuknya malam
Yang baru saja dilalui sang wanita
Sekejap tampak damai dalam tidurnya
Pada dipan yang penuh ngengat di gubuk reyot

Sepucuk kertas menceritakan cerita
Tentang uang yang harus dikirim esok
Agar sang buah hati dapat terus bersekolah
Demi sebuah cita-cita masa depan yang sangat biasa
Mimpi sang anak untuk mencecap hidup yang lebih baik.

Tidak usahlah kau ribut dengan ceramahmu
Tentang moralitas yang dibungkus dogma agama
Tentang Surga yang tidak dapat mengenyangkan
Tentang Neraka yang tidak semenakutkan dikeluarkan dari sekolah
Tolong kali ini saja, aku memohon,
Kau Biarkanlah sang wanita menikmati jedanya
Yang hanya sebentar, sebelum malam datang lagi untuk dihibur.

14 Juni 2009, Jakarta
Kala malam mendekap jiwa

Written by dana

Agustus 31, 2009 pada 3:39 am

Ditulis dalam Puisi

Ditandai dengan , , ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. mereka bisa memilih, mas dana.
    memilih hidupnya. kebahagiaan bagi orang lain macam apa yang bisa ditukar dengan kehidupan seperti itu?

    tapi sy pun tak bisa berbuat apa2

    emina

    September 6, 2009 at 2:51 pm

  2. Bnyak yang mengatakan bahwa merka melakukan itu karena ekonomi,bukan itu alasanny mereka melakukannya tapi hanya untuk memuaskan tujuan hidup merka yaitu meraih harta yang banyak,kalo memang faktor ekonomi dia bisa jdi pejaga toko

    Sewa Projector Murah

    September 11, 2009 at 2:43 pm

  3. Sangat klop kalau disandingkan dengan lagu Kupu-Kupu Malam dari Ariel Peterpan.

    Fitri

    September 15, 2009 at 6:17 pm

  4. Semula karena alasan ekonomi.
    Setelah tabungan cukup, mulai mikir lagi.
    Mau usaha apa ya? Entar kalau bangkrut gimana?

    Kembali lagi ke kerjaan semula.
    Coba cari suami yang baik-baik.
    Ternyata hanya ketemu yang morotin doang.

    Kembali lagi ke kerjaan semula.
    Menghubungi teman-teman lama.
    Tidak berbalas karena mereka jijik.

    Kembali lagi ke kerjaan semula.
    Ikut pengajian agar dapat pencerahan.
    Dan doapun tetap tidak bersambut.

    Kembali lagi ke kerjaan semula.
    Terpaksa menunggu sampai tidak laku lagi.
    Puluhan tahunpun berlalu.

    Jadi, siapa yang salah?

    Lambang

    September 23, 2009 at 9:58 am


Tinggalkan Balasan