Archive for Juni 14th, 2009
Cerita Bromocorah
Kugores malam dengan sebuah cerita. Cerita yang begitu gelap, lebih pekat dari malam tanpa bintang. Menyebar amis darah di dalam-nya. Ketika hidup harus memilih antara membunuh atau dibunuh.
Itulah hidupku, disemua gemerlap kelip lampu-lampu yang menghias transaksiku. Antara tubuh-tubuh yang menggeliat menggila, dan semakin gila setelah transaksiku. Dentuman house musik menenggelamkan segala nurani yang masih tersisa.
Ada lagi yang mati malam ini. Itu bukan aku, karena aku masih bisa menceritakan hidupku. Dia mati untuk memberiku jalan hidup. Membiarkan transaksiku tidak akan pernah menjadi sedikit. Amis darahnya membuatku muntah.
Aku tidak ingin membuat mati. Tapi sudah tidak ada jalan lain, maka kutelan segala amis. Tubuh itu akhirnya menjadi beku. Sempat kuucapkan doa yang masih kuingat sepenggal. Doa untukku dan untuknya.
Terserah apapun katamu. Ini adalah hidupku. Ini adalah ceritaku. Jangan bohongi aku dengan segala kemilau yang disebut suci itu. Aku tidak butuh. Yang aku butuh hanyalah malam yang paling pekat.
Kan kupeluk malam sampai hariku tiba. Sampai saatnya untuk memeluk sang maut.
19 Februari 2009, Jakarta
Malam pekat setelah hujan.

