Sungaiku
Dongeng nenek akanmu begitu indah tak terperi. Air jernih menyegarkan jiwa bagi siapapun yang mereguknya. Ikan-ikan kecil berenang ceria. Bahkan tetap ceria ketika memakan umpan pancing Bapak. Tentu Bapak pun menjadi ceria bukan alang-kepalang.
Bapak teringat betapa nanti malam bisa makan ikan, bersama Ibu yang belum jadi ibu. Aku belum ada memang. Tapi cara mendongeng nenek membuat aku merasa sudah ada saat itu. Dongeng tentang sungai yang telah menjadi urat nadi di kota kecil nenek.
Urat nadi yang memberi kehidupan bagi segenap warga kota. Juga bagi Ibu-Bapakku, yang cintanya berawal dari sungai itu, dan menjadi besar juga olehnya. Sungai dengan air beriak jernih, diramaikan ikan-ikan ceria.
Batu berkilat sempurna saat siang dan malam, juga keladi berdansa dengan angin. Mengirim salam pada mentari dan rembulan. Bergantian. Saat itu sungaiku benar-benar indah tak terperi. Seindah warna-warni pelangi yag menghias langit biru sehabis hujan.
Kini, semua sudah tiada. Sejak kota nenek telah menjadi bukan kota kecil lagi. Banyaknya industri telah menyumbang jelaga yang mewarnai sungaiku. Hitam pekat kini warnanya. Tanpa ada lagi keceriaan para ikan yang suda lama mati. Juga tidak ada lagi pantulan langit biru. Semua hitam.
Pancing Bapakpun, dimasa senjanya, hanya mendapat setumpukan sampah. Suatu saat tidak lama setelah itu, Bapak akhirnya menyerah. Ibupun sudah tidak mengharap ikan. Bapak-Ibuku telah menyerah seperti semua penduduk kota yang pasrah menyambut mati. Sejak nadi mengalirkan kehidupannya sudah tiada.
Pemerintah kotapun membiarkan rakyatnya yang satu demi satu menjadi robot industri. Tanpa ada kehidupan diantaranya. Hidup itu pada akhirnya pergi tanpa pernah kembali. Sungaiku telah mati. Dan aku dewasa pada kematian tanpa dapat menawar. Hidup hanya menjadi cerita lalu.
Kadang ingin protes pada semua. Tentang aku yang hanya diwariskan kematian, bukan kehidupan seperti pada dongeng nenek. Namun aku mengurungkan niat, sebab merasa percuma. Protes pada orang mati adalah tindakan gila. Sedangkan aku masih ingin dianggap waras walau telah mati. Setidaknya dianggap bukan gila.
19 Februari 2009, Jakarta
menjelang tidur


Beh, bahkan di hulu-hulu sungai Kalimantan pun, sungai sudah mulai tercemar karena penambangan emas tradisional (yang kebanyakan memakai air raksa!)..
*gun males logout wp-com*
Betang
Juni 7, 2009 at 10:01 pm
hampir dah seluruh indonesia sepertinya nih. *mengkhawatirkan*
dana
Juni 9, 2009 at 11:23 am
apalagi di Medan mas, sudah nda ada sungai yang bersih
sedih aku jadinya
reallylife
Juni 8, 2009 at 6:11 pm
wah, medan dah separah itukah?
dana
Juni 9, 2009 at 11:24 am
Kampungku dulu sekarang juga udah jadi pohon beton semua…padahal dulu sering berkejaran di kebon tebu, di empang sawah, juga di ladang semangka.
edratna
Juni 9, 2009 at 10:33 am
menyedihkan ya bu.
dana
Juni 9, 2009 at 11:24 am
Miris. Miris. Aku malah tak pernah merasakan punya kampung halaman sama sekali…
Daniel Mahendra
Juni 10, 2009 at 3:10 am
hehehe.. zaman uedaaaaaan.. semua dah kacaaaaaau.. seluruh tatanan kehidupan sudah bergeser jauh dari keseimbangan..
Salam Sayang
KangBoed
Juni 11, 2009 at 9:16 am
jakarta sungainya bener-bener…, airnya kayak kapucino…. item, bau dan banyak sampahnya lagi. ya, tapi kalo ujan aja gak nguap itu udah untung banget…
eden.apesman
Juni 11, 2009 at 6:47 pm
iya.. dulu ditempatq sungai masih bersih… bening… ikanny masih banyak.. dulu aq inget pas TK tamasya sama temen2 ke sungai itu, seneng banget, batuny masih keliatan semua item, tapi ga lama sungainy jadi coklat, bahkan sekarang udah dibuat tempat buangan air2 kotor…
sedihny.. seandainy kita bisa kembalikan hidup ini seperti 50 atau 100 tahun yang lalu aja deh….
ga perlu sampe zaman2 purba,,,,T_T
Arya
Agustus 11, 2009 at 12:37 pm