Mencari Tuhan
Gila. Kata itulah yang sering disematkan kepadaku. Baik oleh teman, maupun yang bukan teman. Ya, mereka menganggap aku gila hanya karena sebuah keinginan yang terus kuumbar ke mana-mana. Terus menabrak batas yang kata mereka telah digariskan. Setidaknya merasa telah digariskan. Semua kulakukan hanya demi inginku bertemu dan berkenalan dengan sosok yang sangat misterius. Sosok yang telah dipaksa hadir dalam hidupku sejak tangisan pertama. Kemudian terus membayangi dalam setiap langkahku hingga saat ini. Sosok yang terus membayangi tanpa aku pernah tahu siapa dia. Sungguh aku sangat penasaran.
Gilalah, tidak lama setelah itu, kemudian menjadi nama tengahku. Saat dimana akhirnya kuputuskan untuk mencari wujud nyata dari sosok penuh misteri yang tidak pernah lepas meghantui setiap jejak langkah hidupku. Saat itu aku baru berumur 18 tahun. Sedang mengawali perjuangan di salah satu universitas terbaik di negeri tercinta ini. Setidaknya begitu kata rektor yang menyambut kami para mahasiswa dan mahasiswi baru. Juga hal tersebut dinyatakan oleh spanduk di gerbang kampus, denga tulisan yang sangat mencolok.
Dalam suasana serba baru. Tempat baru, teman baru, dan baru-baru yang lain, tiba-tiba keinginan gila tersebut terlintas begitu saja. Keinginan gila untuk menemukan wujud Tuhan. Dan tentu setelah menemukan kemudian bisa dilanjutkan dengan berkenalan. Aku memang meyadari sekali bahwa untuk menemukan sesuatu maka harus melakukan usaha mencari. Itulah yang akan kulakukan. Aku memulai usahaku untuk mencari Tuhan. Menurut pikiranku bahwa Tuhan tentu berada di rumah ibadah sebab sering dikatakan juga rumah ibadah adalah rumah Tuhan. Maka segera saja kucari Tuhan ke Masjid kampus.
Menyambangi Masjid kampus adalah tindakan pertama yang kulakukan untuk mencari keberadaan Tuhan. Sebuah tempat yang selalu akan kuingat sebagai awal dari segalanya. Awal segala yang kemudian terjadi pada hidupku yang sangat menggairahkan setelah itu. Aku tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. Termasuk dalam urusan pencarian Tuhan. Usaha pencarian aku lakukan sepenuh hati. Aku sampai menginap selama seminggu di masjid. Namun kekecewaan lah yang kudapat karena tidak ada kutemukan Tuhan di sana.
Sebenarnya tidak terlalu mengecewakan juga hasilnya, karena di Masjid itulah aku mendapat petunjuk dari seorang ulama. Ulama yang kebetulan memang sedang memberi ceramah tepat saat telah kuputuskan untuk mencari Tuhan di tempat lain. Aku, ketika itu, merasa betapa memang sungguh aneh cara Tuhan bekerja. Setelah aku hampir putus asa mencariNya di Masjid, maka tiba-tiba ada petunjuk yang menghampiri. Saat itu, aku sangat yakin bahwa memang itu adalah petunjuk dari Tuhan yang disampaikan melalui sang ulama.
Ceramah yang diberikan pada hari jumat. Isi ceramah yang kutangkap adalah bahwa Tuhan itu lebih dekat dari urat leher. Berarti jika ingin mencari Tuhan harus pada kedalaman urat leher manusia pikirku sembari berusaha meresapkan petunjuk tersebut. Dan jika aku mencarinya di urat leher sendiri maka tidak mungkin. Sebab itu berarti aku akan mati, dan tidak bisa mencari lagi. Lagipula seharusnya Tuhan ada di urat leher manusia yang soleh. Manusia yang selalu beribadah kepadanya dengan setulus hati. Tentu saja tidak ada di urat leherku yang kesolehannya sangat diragukan. Ibadahpun selalu malas melakukannya. Jadi satu-satunya jalan adalah mencari di kedalaman urat leher orang lain. Hem… tapi di urat leher siapa ya kira-kira?
“Mari bang… ” Suara halus mengagetkanku. Kulihat dia, seorang wanita cantik mengenakan jilbab. Senyumnya begitu manis. Baru saja menyapaku saat pulang dari Masjid. “Ah!” Kutepuk jidatku. Mengagetkannya yang sedang dalam langkah pulang ke kosannya. Dia menoleh sekejap, tersenyum manis, lalu melangkah lagi. “Betul dia orang yang tepat.” gembiraku karena menemukan jawaban secepat ini. Tuhan memang terus bekerja. Aisha. Pasti di kedalaman urat lehernya bisa ditemukan Tuhan. Pasti. Sebab dia adalah wanita soleha yang hari-harinya di isi dengan pengajian dan sholat di mesjid. Wanita itu, tidak salah adalah manusia yang senantiasa beribadah kepadanya. Tingkah lakunya pun selalu mencerminkan sebagai manusia yang beribadah sungguh-sungguh dengan segenap hatinya. Bukan seorang munafik, yang sekedar beribadah secara lahiriah saja. Pasti di situ ada Tuhan.
Maka dengan sangat bersemangat mulailah kuatur strategi untuk mendekati Aisha. Tentu saja demi memuluskan jalan agar aku bisa menemukan Tuhan. Sepertinya memang Tuhan sedang merestui niatku karena ternyata aku tidak menemui kesulitan untuk mendekatinya. Tuhan memang tidak pernah istirahat. Tampaknya Aisha ada menaruh hati kepadaku. Sehingga dia mau saja setiap kali aku memaksa untuk menemaninya ke kosan sehabis dari Masjid. Hari-hari di Masjidku pun dengan senang hati kuteruskan sebab akan membuatku lebih cepat dekat dengan Aisha.
“Abang benar cinta Aisha?” Tanyanya dengan mata polos berbinar, saat kunyatakan cinta padanya di teras kosannya. Saat itu langit dihias senja yang sangat indah. Benar-benar indah. Aku tidak sedang berbohong.
“Sangat Aisha.” Senyum tulus kutampilkan, kemudian kulanjutkan dalam hati “karena dalammulah akan kutemukan Tuhan.”
Maka sejak senja yang sangat indah itu, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Dan akupun semakin bebas di dekatnya, Itulah yang kuinginkan agar aku bisa semakin dekat kepada saat menemukan Tuhan. Makin hari, aku semakin yakin bahwa aku tidak salah pilih. Aisha benar-benar manusia pilihan. Manusia tempat ada Tuhan didalamnya. Semua tingkah laku Aisha sangat mencerminkan hal itu. Betapa tidak, segala tindakan Aisha selalu berlandaskan akan agama. Dia tidak pernah akan mau melakukan sesuatu jika tidak ada landasan agamanya.
“Jika tidak yakin, sebaiknya jangan dilakukan bang. Takutnya nanti menjadi dosa. ” Jelasnya ketika kutanyakan mengapa dia selalu harus yakin dulu bahwa yang hendak dilakukannya ada tuntunannya dalam agama baru dia mau melakukannya. Aku hanya diam, tidak mau membantah walau aku kadang berpikir bahwa Aisha itu telah menjadi terpenjara oleh agama. Tapi aku tidak menyatakannya karena aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu Tuhan.
“Memang di agama tidak ada pacaran bang, tapi kita ini bukan sedang pacaran. Kita ini sedang bertaaruf. Dan itu ada tuntunannya dalam agama.” Jelasnya dengan lembut ketika pada saat yang lain lagi kutanyakan mengenai pacaran dalam agama. Dan seperti yang sudah-sudah aku hanya diam mengiakan. Toh, tidak ada pegaruhnya mau istilah pacaran atau taaruf. Bagiku sama saja.
Akhirnya pada suatu malam yang tidak kalah indahnya dengan senja dulu saat kami menjadi sepasang kekasih. Pada malam kami akan merayakan ulang tahunku berdua dengan Aisha. Aku memutuskan saat itulah yang paling tepat untuk menemukan sosok Tuhan yang dalam Aisha. Tentu akan menjadi hadiah ulang tahunku yang sangat indah. Maka kutemui Darmo sang penyedia obat. Darmo itu adalah teman kuliah yang senantiasa punya persediaan obat untuk membuat seorang wanita menyerah pasrah pada keinginan lelaki. Betapa saya sangat yakin bahwa ibunya yang seorang apoteker sungguh akan menyesali mengapa dulu mengajari Darmo semua keahliannya.
***
Aisha tidur terlentang. Wajah cantiknya begitu damai di atas tempat tidurku. Obat bius dari Darmo memang sangat mujarab. Tidak percuma dia menjadi tumpuan teman-teman untuk situasi yang membutuhkan pembiusan. Seperti saat ini. Kutatap lama wajah cantik itu, juga rambut hitam yang tergerai. Betapa indah, setelah tadi Jilbabnya kulepas. Inilah saatnya. Saat yang telah kuimpi-impikan sejak saat kulihat Aisha di Masjid dulu. Sejak petunjuk dari ulama di mesjid itu memenuhi kepalaku. Sebuah kombinsasi yang sangat pas.
Inilah. Kuyakinkan diri dengan kegembiraan yang meluap ke semua bagian tubuh. Sekejap kurasakan perasaan melayang dalam surga. Kemudian sadar bahwa yang kucari bukanlah surga. Melainkan sang pemilik surga. Inilah saatnya akan kutemukan Tuhan. Tuhan yang menurut petunjuk ulama di mesjid dulu ada lebih dekat dari urat leher. Yang saya pahami bahwa Tuhan berada di lebih dekat dari urat leher orang-orang soleh. Pasti di kedalaman setelah urat leher Aisha akan kutemukan Dia. Tidak bisa tidak, sebab Aisha adalah wanita yang sangat soleh.
Kuambil pisau bedah yang kubeli dengan harga lumayan dari para penjual barang bekas. Penjual barang bekas adalah salah satu dari banyak keajaiban dalam hidup. Setidak lajim apapun yang kucari biasanya ada di tangan mereka. TIdak perlu repot-repot mencari sediri. Tinggal memberi uang, maka yang kubutuhkan pun menjadi milik. Kutatap kembali wajah Aisha yang tampak begitu damai. Kulihat bibirnya membentuk senyum kecil. Menyambut diriku yang sebentar lagi pasti bertemu Tuhan. Tersembunyi di kedalam urat lehernya.
Aku mendekat ke tubuhnya yang diam. Aku duduk di samping kepalanya. Kupegang pisau bedah di tangan kananku. Tangan kiriku memegang kepalanya. Kumiringkan ke arah berlawanan dengan posisiku. Tampak urat leher itu menerawang dari leher putih yang seperti bening saja. Leher yang indah. Melihat keindahan itu aku semakin yakin bahwa memang Tuhan ada di kedalaman. Tentu Tuhan memilih keindahan sebagai tempa tinggalnya.
Kudekatkan pisau bedah ke leher. “Crass… ” tanpa ragu kugesekkan pisau padanya. Memotong tepat di urat leher, menuju ke kedalaman. Darah muncrat ke wajahku. Memerahiku. Tubuh itu tampak agak menegang sekejap. Lalu diam , seperti semula. Darah terus mengalir. Membanjir, mengecat sprei putih menjadi semerah saga. Aku memilih untuk bersabar menunggu darah itu habis mengalir. Menunggu dengan berdebar-debar. Inilah saatnya aku akan melihatNya.
Akhirnya darah itu telah berhenti mengalir. Kulihat wajah Aisha tampak lebih putih. Memucat. Mulutnya agak menganga. Tapi itu tidak penting. Segera pandanganku kualihkan ke tempat yang paling penting. Ke leher yang sekarang tidak putih lagi, tapi sudah merah. Kutajamkan pandanganku pada luka menganga di situ. Kuletakkan pisau bedah di samping. Lalu dengan kedua tangan, kukuak luka itu agar bisa melihat lebih jelas.
Kemudian, sungguh aku kecewa. Tidak ada apa-apa di situ. Tidak ada Tuhan . Ah, aku terhenyak lemas. Ternyata aku telah dibohongi. Ulama itu ternyata berbohong. Tidak ada Tuhan di kedalaman urat leher. Walau di urat leher Aisha, wanita yang sangat sholeh. Yang segala tindakannya berlandaskan pada agama. Duh, dimanakah Engkau gerangan bersembunyi? Tatapanku menjadi nanar. Tubuhku rasanya lelah sekali. Aku terduduk gontai di pinggir ranjang. Menatap nanar tubuh di depanku yang sudah kosong.
Kutarik nafas dalam-dalam, lalu kubuang sekeras mungkin. Berusaha memuntahkan kekecewaan di dalam dada. Kusadari dengan segera bahwa aku harus mencari Tuhan di tempat lain. Aku berdiri. Meninggalkan tubuh Aisha yang tergenang dalam darah. Sebuah keindahan sebenarnya, tapi aku sedang terlalu kecewa untuk menikmatinya. Aku menuju kamar mandi. Membersihkan diri. Kuganti baju yang berlumuran darah dengan baju baru. Aku keluar dari kosan dengan tenang. Menembus pekatnya malam. Meneruskan perjalanan untuk mencari Tuhan. Terus melangkah. Mencermati segala petunjuk yang mungkin muncul. Semoga petunjuk berikutnya bukanlah sebuah kebohongan. Rasanya satu lagi kebohongan maka aku akan benar-benar menjadi gila.
Oktober 2008, Jakarta
Pada kerinduan yang amat sangat


gila!
Lumiere
Maret 10, 2009 at 9:12 am
tul!
dana
Maret 12, 2009 at 10:43 pm
bener-bener sakit jiwa
Rukia
Maret 10, 2009 at 12:58 pm
iya, tuh. Nggak normal.
dana
Maret 12, 2009 at 10:45 pm
Oh, pembunuhan berencana ternyata…
jensen99
Maret 10, 2009 at 9:01 pm
bisa dibilang begitu
dana
Maret 12, 2009 at 10:46 pm
“Kehebatan seorang komponis diketahui lewat nada-nada musiknya, tetapi menganalisis nada-nada saja tidak akan mengungkapkan kehebatannya. Keagungan penyair termuat dalam kata-katanya, namun mempelajari kata-katanya tidak akan mengungkapkan inspirasi. Tuhan mewahyukan diri-Nya dalam ciptaan, tetapi dengan meneliti ciptaan secermat apa pun kamu tidak akan menemukan Allah; demikian juga bila kamu ingin menemukan jiwa melalui pemeriksaan cermat terhadap tubuhmu.”
tomy
Maret 11, 2009 at 1:17 pm
Hahaaha.. rasanya memang seperti itu kang.
dana
Maret 12, 2009 at 10:46 pm
Daleeemm….
Kalau diterjemahkan secara harfiah memang bisa jadi pembunuhan anjuran ulaam itu
Alex©
Maret 11, 2009 at 9:36 pm
iya, lex, bahaya banget kan jika begitu.
dana
Maret 12, 2009 at 10:47 pm
Bahaya memang…
sama macam ayat, “Istrimu adalah sawah ladangmu…”
Lha, kalo yang gila maen pacul kan berabe itu
Abuya Tgk. Alex© Al-Hidayat
Maret 12, 2009 at 10:52 pm
hahaha… bener bener bahaya itu.
dana
Maret 13, 2009 at 9:27 pm
uuppsss… hueee..tulisannya mengerikan
Tha
Maret 13, 2009 at 8:43 am
Wah, mengerikan ya? *Berarti cerpen ini berhasil*
dana
Maret 13, 2009 at 9:28 pm
tak kirain ini tadi real story, pas baca paragraf2 awalnya hehe. ternyata cerpen to kang?
Untuk mengenal Tuhan, maka kita harus mengenal kasih. Karena itu yang tidak mengenal kasih, berarti tidak mengenal Tuhan. Sebab Tuhan itu kasih. halah ngomong opo aku iki.
agiek
Maret 13, 2009 at 10:37 am
masalahnya jadi bergeser ke apa kasih itu.
ngono toh.
dana
Maret 13, 2009 at 9:30 pm
jangan..jangan gila dulu sebelum ketemu Tuhan :p
nie
Maret 13, 2009 at 2:47 pm
jangan jangan sih.
dana
Maret 13, 2009 at 9:36 pm
Kisah yang menarik. Harus dipraktekkan…
frozen
Maret 16, 2009 at 8:24 pm
Heh?!!
dana
Maret 18, 2009 at 2:39 pm
ga nyangka dan.. Untung aku ga soleh2 amat..
klo iya wah aku dah jadi salah satu korbanmu berikutnya saat masih di ITMC nya Indosat Pantai Cermin…:D
Good luck frend.. teruskan tulisannya..
Purba
Maret 22, 2009 at 10:45 am
Wakakaka… kemana aja Pur?
dana
Maret 30, 2009 at 10:11 pm
Cerita bagus, oke bgt, lanjutkan lagi donk, gw pingin tau klanjutanny..
kus
Oktober 6, 2009 at 8:37 pm