Cerita Dana

Karena hidup adalah tentang bercerita

Cerita Hidup

with 7 comments

Pak Tongat mengelap keringat yang membanjir dengan handuk butut. Mengelap, seakan hendak mengeringkan segala derita pada tubuh yang sudah kurus kering. Panas kota Jakarta memang terasa semakin lama semakin panas. Apalagi bagi Pak Tongat yang bekerja di trotoar jalan tanpa pelindung. Sinar matahari langsung menghujam, membakaranya. Tapi mau tidak mau menerima, demi mencari sesuap nasi, demi hidup esok hari. Otot-otot tangannya terlihat menonjol ketika dia berusaha membuka bagian tepi ban dari sebuah truk dengan sepotong linggis andalannya. Wajahnya tampak memerah diantara basah keringat yang tampaknya tidak sempat dilap. Mengerahkan seluruh tenaga.

“Tring!” suara linggis jatuh ke trotoar. Berdenting, beradu dengan beton. Sudah membuka sedikit, celah pada tepi ban. Pak Tongat mengambil kembali linggis. Melanjutkan pekerjaannya dengan semakin bersemangat. Semangat meneruskan perjuangan. Berusaha menyelesaikan secepat mungkin penambalan. Diiringi asa semoga rejeki selanjutnya bisa datang tidak lama setelahnya. Lembaran merah melamba di pelupuk matanya. Lembaran yang akan membelikan makan yang layak bagi keluarganya. Apalagi jika masih dapat tambahan rejeki berikutnya, mungkin bisa sedikit lebih dari layak.

Panas matahari di ubun-ubun tidak terasa. Bahkan Pak Tongat sangat mensyukuri cuaca hari itu. Walau bagi orang lain akan terasa menyusahkan karena begitu terik seakan hendak menghanguskan. Orang lain tentu mengharapkan hujan turun untuk sekedar meneduhkan hari yang masih panjang. Sesuatu yang ditakuti oleh Pak Tongat. Betapa tidak , jika hujan mengguyur, maka berarti hilang pulalah harapan Pak Tongat untuk mengais sedikit rejeki. Jika hujan, dia harus memilih menyelamatkan perlengkapannya daripada tetap bertahan di trotoar. Mobil juga akan jarang yang lewat sebab pasti jalan akan tergenang banjir, yang cukup untuk membuat pengendara mobil menghindari jalan itu. Jika tetap nekat maka resiko akan terjebak genangan air yang dalam.

Pada detik yang sama, di sisi lain Jakarta. Tongat tampak sedang duduk mengaso di salah satu sudut perempatan lampu merah. Duduk di pinggir trotoar. Sesekali mengelap keringat. Udara semakin panas. Tongat tampak tidak peduli. Dia begitu khusyuk menghitung lembar-lembar rupiah di tangan. Ada sedikit koran yang digeletakkan di kakinya. Wajahnya perlahan menjadi cerah seiring makin habisnya lembar yang harus dihitung. Kemudian menjadi cerah sempurna setelah selesai menghitung. Matahari itu terbit. Senyum tersungging di bibirnya. Bersyukur ternyata hasil penjualan hari ini menggembirakan. Cukuplah untuk membantu emak beli makanan yang enak. Lauk sayur lengkap. Sebuah kemewahan baginya.

Bayangan akan makan dengan lauk lengkap sudah sangat membahagiakan. Sungguh jarang mereka sekeluarga makan makanan lengkap. Seringnya cuma dengan sayur saja, atau malah cabe ditemani garam saja. Memang bapaknya juga punya penghasilan. Tapi seringnya habis buat biaya berobat ibu yang sudah beberapa tahun ini sakit-sakitan. Terlalu lelah dihimpit miskinnya hidup mereka. Kata Bapak, dulu Ibu itu kembang desa asal mereka. Sangat cantik. Tongat hampir tidak percaya, karena Ibu baginya adalah sosok wanita yang begitu renta. Kerut merut diwajahnya, uban di rambutnya. Tanpa ada kecantikan sama sekali. Memang ibu sangat baik. tapi jelas bahwa baik bukan cantik.

Tongat memilih tidak membantah Bapak. Tongat mendengar dengan tulus. Biarlah sinar kebanggaan itu terpancar di mata Bapak. Walau bagi Tongat cerita Bapak bukan kenyataan.Cerita itu hanyalah mimpi dari pemimpi. Menurut Tongat yang cantik itu seperti Iis anaknya Mbok Darmi tetangga mereka. Betapa tidak matanya begitu bening, bibirnya merah meranum, rambutnya hitam tergerai. Dan terutama sapaannya yang tiap hari hadir menyapa pagi Tongat, saat Iis lewat di depan rumah bersama ibunya. Menuju tengah kota. Menjejaki satu demi satu tempat sampah, memulung segala yang bisa dijual. Seperti Iis itulah yang cantik, bukan seperti ibu.

***

Wajah tua penuh kerutan itu tampak mengelam. Memandang hamparan sawah di depannya yang kering kerontang. Tampak tanah-tanah berbongkah mengeras bagai cadas. Tidak ada satupun tumbuhan keluar dari tanah itu. Bahkan ilalangpun tidak bisa. Ditatapnya sang istri di sebelah, yang juga sedang menatapnya. Tatapan tidak berdaya yang berusaha menguatkan. Lalu ditatapnya kembali hamparan tanah kering kerontang yang tidak seberapa luas itu.

“Duh, bagaimana ini Bu? Padi yang kita tanam tampaknya tidak sanggup melawan kekeringan. Siraman air yang telah kita usahakan tampaknya tidak terasa. Air hilang tidak berbekas, mengering. Kita seperti menyiram air ke padang pasir saja. Duh, bagaimana ini?”

“Iya Pak. Tampaknya kali ini kita tidak ada hasil. Tapi sabar saja ya Pak. Tuhan itu maha baik. Pasti kita akan bisa menemukan jalan untuk menyambung hidup. Toh, sudah berulang kali kita menghadapi kemarau. Selama ini kita tetap bisa. Bukankah selalu begitu? Jadi tidak usah terlalu dipikirkan.”

Wajah tua itu tampak berusaha tersenyum, walau getir. Berusaha ikhlas menerima kegagalan panen kali ini yang sudah diambang mata. Betapa musim kemarau kali ini terasa sangat kejam. Tidak menyisakan satupun kesempatan untuk sekedar menuai hasil untuik makan. Dia ingat seorang teman yang sekarang sedang merantau di Jakarta. Seorang teman yang selalu sangat bahagia di musim kemarau.

Pak Tongat, dia selalu memanggil begitu pada temannya. Panggilan yang selalu dia ingat ketika musim kemarau meraja. Tidak menyisakan hujan sedikitpun. Temannya itu tentu sedang senang-senangnya saat ini. Mengumpulkan uang tanpa halangan. Sedikit galaunya hilang, membayangkan wajah bahagia temannya itu. Temannya yang selalu mengeluh di musim hujan ketika dia malah bersyukur, menganggap hujan sebagai karunia. Sebagai wahyu dari langit untuk hidup yang lebih baik.

Dirangkulnya istrinya dengan masih tetap mesra seperti waktu muda dulu. Mengajak pulang ke rumah. Walau dia tahu pasti bahwa di rumah sudah tidak apa-apa. Tapi minimal mereka dapat berlindung sejenak dari panas mentari yang terus membakar bumi nasib mereka. Panas yang menghancurkan segala asa akan hari depan yang lebih baik. Hanya sisa-sisa saja yang ada. Sisa dari doa tahun lalu. Saat kemarau juga datang, walau tidak sepanjang kali ini.

Ah, tentu Pak Tongat sedang berbahagia sekarang.

***

Pak Tongat tampak nanar memandang keluar jendela.

“Duh, Tuhan, musim hujan akhinya datang juga. Bagaimana caranya untuk mencari nafkah?”

Hujaman air hujan pada plastik penutup jendela gubuk. Seakan mengejek nasib Pak Tongat. Mengejek kebingungan dari seorang lelaki yang tidak bisa berpikir lain, kecuali bahwa hujan berarti banjir sedang menuju tempatnya menambal ban. Tempat segala asa untuk esok hari tertanam. Menenggelamkan segala asa untuk beberapa bulan. Sampai waktu bergeser kembali. Dipandangnya langit. Dilihatnya ada sedikit harapan, karena matahari masih ada mengintip malu-malu dari tirai awan yang kelabu.

Dia mengambil perlengkapannya. Satu kotak penuh berisi senjata untuk berperang dengan ban-ban yang sedang sial. Diletakkanya dekat pintu agar bisa cepat menyambar ketika pintu harapan terbuka sedikit saja. Dengan harap cemas ditatapnya kembali ke langit. Matahari tampaknya sudah tidak terlalu malu. Di keluarkannya tangannya, menengadah ke langit. Sekejap dia menimbang. Lalu disambarnya kotak itu. Melangkah keluar menerjang hujan yang seperti mau reda. Bergegas memburu rejeki. Dipaksakannya untuk berangkat. Selagi hujan reda sedikit, pikirnya. Menghampiri tempat satu-satunya yang dia tahu akan memberinya uang untuk makan sekeluarga. Memberinya sedikit kekuatan untuk menyambung hidup hingga esok hari.

Kecewa dan pedih. Itulah rasa dalam dada pak Tongat. Yang tampak nanar memandang kubangan air yang merendam tempatnya. Juga merendam sekitarnya. Tidak akan ada yang lewat kecuali tikus got. Tapi tikus got tidak dapat memberinya uang. Tidak seperti kendaraan bermesin yang ketibaan sial. Melindas nasib buruk yang menjadi nasib baik bagi Pak Tongat.

“Semoga Tongat bisa mendapat uang hari ini.” harapnya getir, menatap nanar pada air yang mengubur harapannya.

Pak Tongat memang sangat kecewa. Walau sebenarnya sudah menduga bahwa tempatnya akan terbenam. Seperti yang sudah-sudah. Tapi sebelum melihat sendiri, dia masih bisa berharap sedikit mukjijat. Tapi tampaknya Tuhan terlalu sibuk untuk sekedar mendengar doanya. Atau seperti kata pak Paimin kenalannya di desa dulu bahwa Tuhan punya rencananya sendiri. Terbayang sosok wajah tua yang selalu mengeluh jika hujan tidak turun. Hujan yang dia sendiri kutuk sebagai nasib buruk.

“Bapak ini selalu mengatakan itu kalau musim kemarau. Tapi ketika musim hujan Bapak tidak bilang itu rencanaNya” protesnya suatu ketika. Pak Paimin cuma tersenyum kecut. Tidak menjawab. Ah, tentu Pak Paimin senang sekarang.

Pada detik yang sama di sisi lain Jakarta. Wajah kecil yang dipaksa dewasa itu tampak murung menghitung lembaran tipis di tangan. Juga beberapa gemerincing uang logam. Ada air yang menetes di sekujur tubuhnya. Bajunya basah kuyup. Koran tampak masih banyak, pasrah di sebelahnya. Dibungkus plastik. Bayangan iblispun sepertinya tidak akan sanggup menguapkan rasa sedihnya. Nanar dia menatap hujan, lalu koran yang masih tersisa lebih dari separuh.

“Semoga tempat Bapak tidak terendam hari ini.” Lirih sepotong asa keluar dari mulutnya yang membiru.

Ya, mulai hari ini dia dan keluarga tampaknya akan hidup prihatin lagi. Setelah hari-hari lalu sedikit bisa bernafas lega. Dilihatnya badannya yang tampak gemukan. Meredup sinar matanya ketika menyadari sebentar lagi badannya akan kembali menyusut. Seperti yang sudah-sudah. Karena kemewahan nasi dengan lauk pauk sudah akan lenyap. Direnggut musim penghujan. Sepertinya hari-hari nasi dengan garam telah dimulai. Sebentar Tongat tampak merenung. Lalu kemudian dia bangkit dan melangkah menembus hujan yang tidak pernah peduli akan kesedihannya. Akan keengganannya untuk bertemu. Hujan memang tidak untuk mengerti, tapi untuk dimengerti. Dia, Tongat, masih sekecil itu sudah harus memahami semuanya. Penderitaan menempanya untuk mengerti alam. Mengerti manusia tidak akan pernah bisa melawan. Langkahnya tampak ringan, walau sedih.

***

Sumringah wajah Pak Paimin menatap pada langit. Menikmati hujan yang adalah karunia nyata satu-satunya baginya. Dia berdiri di halaman depan rumah. Menikmati tiap tetes curahan kasih dari langit. Tumpahan asanya yang telah sekian lama tertahan. Bu Paimin menatap wajah Pak Paimin sambil tersenyum. Ikut sumringah. Menjemput asa yang selama ini mereka telah gantungkan.

“Untung kita tidak sampai putus asa ya Bu. Sehingga kita masih menyempatkan diri untuk menanam benih padi yang tersisa dari hasil hutang bulan lalu. Kini kita telah tidak berlaku mubajir, menyia-nyiakan tumpahan banyak asa dari langit. Hujan memang menjadi karunia. “

“Iya, Pak. Memang benar bahwa Tuhan selalu menyayangi orang-orang yang tidak lekas putus asa. Orang-orang yang senantiasa berusaha. Tidak hanya pasrah, sembari mengutuk alam dengan sumpah serapah yang tampak tidak kering-kering. Pak, Sembah syukur kepada Gusti Pangeran. “

Pak Paimin dan Bu Paimin tampak bergegas berangkat ke ladang mereka. Yang menanti sentuhan penyempurna tugas hujan. Pak Paimin tampak memanggul goni berisi pupuk. Bu Paimin membawa cangkul dan celurit. Mereka melangkah dengan lepas. Menikmati gerimis yang masih turun. Menikmati gerimis yang membelai wajah tua mereka. Wajah tua yang sedang bahagia. Mereka berdua memang orang desa yang sederhana. Sesederhana cara mereka bersyukur kepada Tuhan. Menyampaikan rasa syukur mereka kepada Tuhan dengan cara tidak menyia-nyiakan anugrah yang telah diberikan. Dengan bekerja.

***

Suasana desa tepi hutan itu tampak meriah suatu pagi. Senyum para penduduk tampak cerah. Saling menyapa ramah. Memberi selamat hari raya. Setelah sebulan penuh mereka berpuasa. Wajah-wajah sumringah di setiap sudut. Tidak tersisa ruang untuk kelam. Tongat, Bu Tongat , dan Pak Tongat tampak berbincang akrab dengan Pak dan Bu Paimin. Saling melepas rindu. Menceritakan pengalaman-pengalaman hidup sejak terakhir mereka bertemu pada hari raya tahun lalu. Bercerita terus, dalam iringan tawa bahagia. Hidup itu memang sebuah cerita yang tiada habisnya. Menceritakan tentang surga dan neraka.

Written by dana

Februari 4, 2009 pada 12:18 am

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , , ,

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Buset, seumur-umur baca blog Dana, gak salah kalo nebak bisa bikin cerpen :D

    Bagus… bagus… masyarakat akar rumput, tema yang menarik.

    *save-as*

    Buya Alex©

    Februari 5, 2009 at 9:36 am

  2. Salam kenal mas…
    Blognya bagus banget
    mampir keblog saya ya mas di http://bamber4smansa.wordpress.com yang ngunjungi masih sedikit banget diblog saya(hikz…hikz…) :(

    bamber

    Februari 7, 2009 at 8:31 pm

  3. Cerita sederhana yang ditutup dengan idul fitri di kampung. Bagus juga. :)

    jensen99

    Februari 11, 2009 at 3:02 pm

  4. @Buya Alex©

    Sayang lex, membuat cerpennya lagi macet. Cerpen ini sudah stok lama.

    @bamber

    Salam kenal.

    @jensen99

    Makasih. :D

    dana

    Februari 13, 2009 at 7:46 pm

  5. salam kenal,
    saya suka cerpen anda

    mountnebo

    Maret 12, 2009 at 3:45 pm

  6. bagus…maju terus..sukses kang..
    salam kenal. :D :D

    herrman

    Juni 29, 2009 at 8:15 pm


Tinggalkan Balasan