Cerita Pantai
Udara itu serasa asin melekat
Memeluk diri yang terpana
Tatapan jauh ke cakrawala
Tarian ombak menemani tanpa canggung
Di atas pasir basah dua manusia
Sedang bermain dalam rindu
Lupa waktu yang tak menyentuh
Damai itulah yang ada
Wajah-wajah puas tampak tertidur
Dalam pelukan sang bidadari
Yang basah dan asin, murni
Hangatnya tidak dingin seperti air
Dinginnya tidak panas seperti api
Deru ombak
Desau angin
Gemericik air
Lembutnya pasir
Menarikan tarian indah melenakan
Dua anak manusia yang sedang bercengkrama
Melepas rindu bergulingan di pantai
Seberkas semburat senja
Melukis indahnya hidup
Kepiting, Ikan kerapu, sambal kecap dengan irisan rawit
Menghapus lapar yang menyerang
Saat dua anak manusia melepas
Rindu telah menyatu di dangau tepi pantai
Duduk beralas tikar menikmati hidup
Di antara belaian angin senja
Dalam semburat memerah
Damai
Indah
Pantai
Burung camar tampak menyampaikan berita
Dua anak manusia memadu rindu di pantai
Tidak lupa juga tentang damainya.


Dua anak manusia memadu rindu … ah nama saya disebut
kangen saya yah, halah !!
Rindu
Agustus 24, 2008 at 4:14 pm
Ah tiba2 jadi kepengen makan kwetiau seafood..
nurma
Agustus 24, 2008 at 6:33 pm
@Rindu
Iyah, nama kamu ada terus ya?
@nurma
Traktir dunk.
dana
Agustus 24, 2008 at 8:24 pm
Dalam pelukan sang bidadari
Yang basah dan asin, murni
Hangatnya tidak dingin seperti air
Dinginnya tidak panas seperti api
………….. bidadarine iku ikan asin atau ubi bakar dicampur ikan asin…
mbuh ah.
kurtubi
Agustus 24, 2008 at 9:34 pm
sebuah puisi yang meninabobokkan
sekaligus memberi kedamaian
rinduku padaMu
mengalahkan rinduku padanya
mikekono
Agustus 25, 2008 at 9:16 am
lirik yang mantab, mas dana. pantai selalu mengingatkan saya akan sebuah kesunyian dan kerinduan. pantai juga menjadi tempat yang tepat utk berkontemplasi. selamat berkontemplasi, mas dana.
sawali tuhusetya
Agustus 25, 2008 at 10:46 am
wah puisi…
selalu susah menarik makna dari suatu puisi
dobelden
Agustus 25, 2008 at 11:09 am
pengin juga nih bercengkrama bersamanya di pantai
tomy
Agustus 26, 2008 at 11:13 am
wah pandai nian bikin puisi………..
salut aku……….
afwan auliyar
Agustus 26, 2008 at 1:21 pm
waduh puisinya kok tulisannya ngalor… ngidul…
ario saja
Agustus 26, 2008 at 1:28 pm
nice
pemudabiasa
Agustus 26, 2008 at 3:46 pm
puisi yang meneduhkan hati,
membawa kita merasakan yang dirasa si pembuat puisi,…
hmm, jadi ingat oppie andaresta,
pasir putih yang hangat,
debur ombak dan angin lautan….
rahmadisrijanto
Agustus 26, 2008 at 5:28 pm
@kurtubi
Hehehe… mungkin saja sih.
@mikekono
apalagi rinduku padaMu di tepi pantai.
@sawali tuhusetya
Iya pak, pantai seperti memancing saya untuk terus berpuisi.
@dobelden
Mungkin hanya Tuhan dan pengarang yang tahu.
@tomy
Jangan sampai tidak kang.
@afwan auliyar
Makasih.
@ario saja
Namanya juga puisi.
@pemudabiasa
Thanks.
@rahmadisrijanto
Wah, Oppie menurutku lagu lagunya puisi yang indah.
dana
Agustus 26, 2008 at 7:12 pm
bagus looh puisinya,buat terharu
vani
Februari 24, 2009 at 7:36 pm
Terimakasih atas apresiasinya.
dana
Februari 26, 2009 at 3:15 pm