Kenangan
Sudah sepuluh menit Lanang berdiri di depan kuburan itu. Kuburan yang tanahnya masih merah. Dengan nisan hitam yang menghias dalam diam. Lanang tidak peduli akan sekitar yang tampak seperti murka. Ketika angin menderu menerbangkan topinya, ketika tubuhnya basah kuyup tidak sanggup melarikan diri dari hujan yang begitu lebat. Petir menyambar-nyambar seperti dekat diatas kepala. Lanang benar-benar tidak peduli akan semuanya. Lanang tampak tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia yang terpisah dari kenyataan. Dunia yang entah dimana. Terasa ada aroma kelam.
Mata Lanang menatap nama yang tertulis dengan cat putih hampir kelabu di nisan hitam. Sebuah nama yang hampir merenggut semua kesadarannya. Nama yang menyeretnya tenggelam di dunia lain itu. Nama yang diharapnya salah tertulis. Ah… setelah lima tahun menguatkan diri dalam penderitaan sebagai orang pelarian. Memupuk terus harapan hidup untuk hari ini. Hari dimana akhirnya bisa memberanikan diri pulang demi menumpahkan rindu dendam yang selama ini menyiksanya.
Kerinduan yang sudah tidak tertahan lagi Namun ternyata tidak ada sambutan untuk segala kerinduannya. Tidak ada sosok perempuan yang terus hadir dalam mimpi mimpinya. Akhirnya hanya disambut oleh diamnya suasana di kuburan sore yang bagai malam. Hanya guyuran hujan dan sambaran petir yang menemani. Juga angin yang tidak mau ketinggalan. Badai yang tanpa belas kasihan pada kesedihan Lanang. Badai menyapa bumi tanpa pandang bulu. Tidak peduli senang dan sedih.
” Mengapa?!! ” gemetar bibir Lanang mendesiskan protes yang tertahan tanpa mampu mengalahkan suara badai yang makin menggila.
Protes yang terpendam sejak tadi. Sejak dia ada di depan nisan hitam itu. Di tanah merah tempat yang mengubur kenangan dan kerinduannya. Sebuah protes yang tercetus tanpa tahu entah ditujukan pada siapa. Ataukah ditujukan pada Tuhan? Entahlah.
Kaki Lanang akhirnya sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Yang tampak sudah begitu kuyu tanpa cahaya hidup. Berlutut. Tertumpah tangis yang telah lama ditahan. Tumpah tanpa ada lagi yang menghalangi. Tumpah mengalahkan hujan yang dari langit membadai bumi. Dalam kerinduan yang menyesakkan jiwa. Kerinduan yang tidak akan pernah dapat menemukan tempat melabuhkannya.
Nisan hitam itu tampak dingin, hanya diam. Tidak bisa sedikitpun menjawab kerinduan Lanang. Duka menggelayut di udara. Menyesakkan. Hujan tanpa henti terus membasahi bumi. Lanang tampak tenggelam dalam dunia lain. Dunia kenangan.
***
“Dinda, maafkanlah aku.” lirih Lanang saat itu, menatap kekosongan di antara dirinya dan kekasihnya. Kosong yang sangat kelam, menenggelamkan jiwa.
Dinda yang tampak rapuh dalam tangisannya. Menyadari sepenuhnya bahwa Lanang sebentar lagi akan meninggalkannya. Lanang sebenarnya ingin tidak, tapi apa daya dia harus. Tidak ada jalan lain, sebab kini Lanang telah menjadi buronan. Sebuah takdir yang sudah di putuskan sendiri oleh Lanang dengan sadar ketika dia menyerah kalah pada nafsu amarahnya. Lanang memutuskan untuk menghukum sendiri para pemerkosa itu sampai puas. Rasa puas itu berarti menghukum sampai mati.
Maka jelas sudah kenyataan terbentang, dia harus lari. Sebab pada akhirnya bahwa ternyata hukum tidak akan pernah peduli alasan di balik sebuah pembunuhan. Bagi hukum yang penting telah ada yang mati dan yang menyebabkan mati itu sudah pasti seorang pembunuh, yang tentu saja harus dihukum. Apalagi ketika yang mati itu adalah anak seorang petinggi. Dan yang menyebabkan mati hanya anak seorang kebanyakan. Seorang yang hidup tepat pada garis kemiskinan
Kenyataan itulah yang akhirnya memaksa Lanang mengambil tindakan pengecut, yang sebenar-benar sangat dibencinya. Melarikan diri dari hidup. Hidup yang menyenangkan walau penuh guratan kesederhanaan. Terlebih benci lagi karena meninggalkan Dinda yang dia tahu butuh akan dirinya. Tapi dia juga tidak tega mengajak Dinda, sebab dia tahu seribu kesulitan di depan mata bagi seorang buronan.
Apalagi dia hanya pergi dengan bekal seadanya, tanpa tujuan kecuali harus menghilang dari hukum yang memburu tanpa pandang bulu. Yah, setidaknya tanpa pandang bulu terhadap orang yang seperti dia. Yang tidak memiliki bulu terbuat dari emas, jadi tidak laku jual lagak didepan hukum. Mungkin saatnya nanti hukum mau memandang bulu biasa dari orang-orang biasa. Tapi itu masih mungkin. Maka dia harus tetap lari.
Dinda masih menangis, tenggelam dalam pikirannya. Saat itu, Dinda tidak dapat mengais sebuah alasanpun untuk menahan Lanang. Dan yang makin membuat hatinya pilu adalah dia tidak mungkin memaksakan diri untuk ikut dalam pelarian Lanang. Tidak dapat mebebani Lanang. Sebab saat itu, dia tengah mengandung. Mengandung anak dari peristiwa jahanam itu. Peristiwa yang terjadi di tengah malam di jalan pulang dari tempatnya kerja sebagai pelayan dari sebuah restoran.
Ketika tiba-tiba. Empat orang pemuda yang mulutnya menyemburkan bau alkohol, tanpa sengaja bertemu dengan dia dalam malam kelam. Malam dengan pekat hitam yang akhirnya menjadi saksi. Sayangnya hanya bisa menjadi saksi bisu, tanpa berbuat apa-apa. Ah… entah bagaimana, ternyata dia membuat mereka bernafsu. Di antara pemberontakan yang tidak ada artinya, akhirnya dirinya di cabik-cabik oleh para pemuda itu. Tanpa tersisa apa-apa lagi. Hanya tangisan yang di bawanya dalam langkah terseok-seok berusaha tetap pulang ke rumah. Malampun tetap membisu menghantar tanpa belas kasihan.
Lanang kembali menatap Dinda, yang tampak pucat dan meremas-remas tangannya. Resah tentu saja. Lanang sangat mengerti itu.
“Dinda, ketahuilah bahwa saya masih mencintaimu. Selalu akan mencintaimu.” Lanang menggenggam tangan Dinda, sambil menatap mata bening itu.
Mata yang basah dan tampak sangat letih, memikul beban hidup. Beban yang makin hari makin berat menghimpit sejak kejadian malam jahanam itu. Dimana ternyata malam yang hanya bisa menjadi saksi bisu. Tanpa guna.
“Ya, aku tahu Nar.” balas Dinda menatap ke mata Lanang yang juga sangat letih.
Dinda memutuskan untuk menyimpan saja tentang kehamilan dirinya. Dia tidak mau Lanang terluka lebih dari ini. Dinda tidak mau sebuah luka tambahan menjadi beban ketika Lanang harus pergi. Biarlah Lanang menganggap semua telah terselesaikan, dengan matinya pemuda-pemuda pemerkosa itu. Dan semoga Lanang bisa tenang dalam pelariannya. Bisa menikmatinya, walau terasa harapan itu jelas hampir mustahil. Tapi biarlah, semua dianggap selesai saja.
Lanang bangkit, diikuti Dinda. Lanang memeluk Dinda lama dan erat, seakan tidak mau melepaskan. Meresapi segala rasa yang kemudian disimpan dalam kenangan. Sebuah pelukan yang berisi ucapan selamat tinggal tanpa akhir. Sebuah ucapan untuk perpisahan yang tidak diketahui sampai kapan. Bahkan mungkin sekali akan selamanya. Lalu Lanang mengambil tas rangselnya, di cangkungkannya pada bahunya yang tampak semakin ringkih. Lalu sekali lagi di tatapnya mata Dinda. Dinda tersenyum berusaha menguatkan, yang sayangnya tidak berhasil. Lanang membalas senyum Dinda dengan lebih getir lagi.
“Aku pergi.” lirih Lanang nyaris tak terdengar.
Lalu dia berbalik , melangkah menjauh dari Dinda. Melangkah menjauh dari hidup. Melangkah dalam hujan yang tiba-tiba mengguyur. Seakan langit ikut menangisi sebuah takdir. Takdir yang digoreskan anak manusia yang telah kalah. Kalah dari nafsu amarah yang meledak membakar sosok orang tak berdaya. Lanang terus melangkah, tidak peduli akan alam. Tidak peduli akan Dinda yang akhirnya roboh tidak kuat menahan kesedihan.
Kesedihan akan kehilangan orang yang dikasihinya sepenuh hati. Kesedihan karena kepergian yang terpaksa justru setelah tindakan yang dari dulu diidamkannya dari sosok pangerannya. Ya, akhirnya pangeran itu memang melakukan sesuatu demi membela dirinya. Ah, sebuah impiannya memang terwujud, tapi ternyata menuntut bayaran yang sangat besar. Jika tahu begini jadinya , dia tidak akan pernah berani memimpikannya. Tidak akan pernah! Kesedihan semakin pilu.
Lanang terus melangkah meninggalkan segala hidup yang direngkuhnya selama ini. Meninggalkan Dinda, Orang tua, Saudara, Teman, dan kota yang telah membentuknya menjadi seorang manusia. Lanang ingin meninggalkan juga kenangan pahit yang telah memaksa dia untuk pergi. Memaksa tanpa belas kasihan, tanpa pernah meragukan kemampuannya.
Keinginannya hanyalah untuk meninggalkan semua kisah hidup itu dibelakang, tidak perlu dikenang lagi. Sebuah pelarian yang sempurna. Namun dari bebagai pengalaman dalam pelariannya, maka akhirnya dia tahu bahwa ternyata semua kisah itu tidak dapat ditinggalkan. Kenangan itu ternyata terus menghantuinya. Tidak pernah ada niat meninggalkannya sendiri , tanpa perlu mengingat. Tidak bisa disuruh pergi.
***
“Ah!” Lanang tampak tersentak sadar dari kenangan 5 tahun lalu ketika merasakan hujan tiba-tiba berhenti membasahi dirinya.
Dia memandang Dyah, yang memegang sebuah payung hitam lebar buat mereka berdua. Tersenyum lembut, berusaha membasuh jiwa Lanang. Walau Dyah tampak kurang percaya dalam senyumnya. Entah akankah bisa membasuh jiwa Lanang yang tampak sangat sakit. Hancur.
“Mengapa?!!” Lanang kembali menyuarakan protesnya.
Sebuah protes yang kali ini dia tahu ditujukan kepada siapa. Protes ditujukannya pada sang takdir. Takdir yang memaksa dia memilih, tanpa ada pilihan lain. Lanang tidak protes ketika Dyah membimbing dia menuju pinggir jalan, dan naik ke mobil hitam yang telah menunggu. Lanang tampak bagai orang linglung, menatap nanar ke luar jendela mobil yang tidak bisa memperlihatkan apa-apa. Kecuali butir-butir air yang pecah menerpanya.
“Ah, Dinda kau telah pergi. Semoga damai yang menyapamu di alam sana.” Doa Lanang penuh harap dalam batin.
Dia sudah tidak ingin untuk mengetahui mengapa Dinda mati, biarlah itu tetap menjadi misteri. Seperti juga mengapa ternyata Dinda punya anak. Seorang anak perempuan yang di serahkan untuk di asuhnya. Seorang anak tanpa siapa-siapa lagi. Sebab ibunya baru saja menyusul nenek dan kakeknya ke alam sana. Biarlah misteri itu tetap diam di sana, dalam bumi . Kuburan dengan nisan hitam yang dingin dan beku.
Tanggung jawab itu. Ya, Lanang akan menerima tanggung-jawab akan anak perempuan yang manis itu. Biarlah itu menjadi obat rindu akan kenangan. Lanang sanggup untuk menjaganya, bagai anak sendiri. Tidak ada gangguan lagi. Sebab entah kenapa ternyata hukum telah lupa untuk memburunya. Mungkin karena hukum telah sadar akan alasannya dulu. Bahwa dia tidak pernah ingin membunuh, hanya takdir lah yang memaksanya.
Mungkin saja memang telah dilupakan, tapi sama mungkinnya dengan tidak. Atau mungkin karena memang lupa tanpa alasan sama sekali. Toh, bangsa ini memang terkenal pelupa, dan hukum sepertinya tidak terkecuali. Ah, berarti dirinya dan Dinda adalah anomali akan bangsa ini. Mereka berdua adalah orang-orang yang sulit lupa akan kenangan. Dan mungkin sekali bahwa Dinda ternyata mati oleh kenangan.
Lanang sendiri tidak memungkiri kalo dirinya telah terikat akan kenangan. Tanpa pernah bisa untuk melepaskan diri. Walau dia ingin.
Sayup-sayup , entah dari mana Lanang mendengar sepotong syair.
Kenangan… kenangan…
Hanyalah sampah pikiran
Sebuah ketidak relaan untuk hidup
Kehidupan masa ini, saat ini
Kenangan… kenangan…
Hanya layak menjadi bahan cerita
Dongeng pelengkap pesta hidup
Sesekali direguk dalam rindu
Kenangan…. Kenangan…
Hanya cerita masa lalu
Tidak lebih
Maka perlakukanlah dia seperti adanya
Hanya sebagai kenangan. Tidak lebih.
Sebuah kebenaran menelusup ke relung Lanang. Tampak senyum tersungging di bibirnya. Di balik kaca terhias bulir-bulir air, menetes. Mobil semakin menjauh dari pekuburan. Sementara itu. Di atas kuburan dengan nisan hitam yang dingin dan membeku. Terlihat sosok bayangan tipis di atas kuburan. Melambai menghantar kepergian Lanang. Tersenyum manis tanpa beban. Binar mata bening itu indah sekali. Juga senyumnya.


wah mas Dana ternyata penutur kata yang sastrawi yah… salut! masih ziarah dengan ontel mas?
kurt
Agustus 21, 2008 at 10:59 pm
kirain kisah nyata…
itikkecil
Agustus 22, 2008 at 11:08 am
nurma
Agustus 22, 2008 at 4:36 pm
kenangan, ya…
*langsung deh pikirannya ke mana-mana habis baca ini*
hanny
Agustus 22, 2008 at 11:04 pm
wah….salut-salut…….ajarin aq donk nulis tulisan kayak gitu…
mau puasa lho…
bersihkan pikiran hati perasaan
met ramadhan
ma2nn-smile
Agustus 23, 2008 at 4:33 pm
@kurt
Yah, nggak apa apa kan kang, sok nyastra dikit.
@itikkecil
Bukan ra.
@nurma
*menyodorkan tissue*
@hanny
Mengenang apa tuh?
@ma2nn-smile
Ah, cuma menuliskan apa yang terpikir aja kok.
Met Ramadhan juga.
dana
Agustus 23, 2008 at 10:12 pm
*menghapus sungai diujung mata saya …*
Kangen IBU ….
Rindu
Agustus 24, 2008 at 4:16 pm
Kalo saya kangen emak.
dana
Agustus 24, 2008 at 8:25 pm