Senja
Senja itu memerah
Menghantar mentari ke peraduan
Kunikmati dalam perjalanaan
Meniti langkah demi langkah
Dalam kehampaan kadang berharap
Antara dua dunia ada terpisah, pintu
Menghantar aku berkunjung
Menyapa engkau yang ada dihati
Mencumbu tanpa lelah
Hayalku semakin melambung
Tanpa batas
Sementara merah mulai tertelan
Mentari sudah lama pergi
Mengistirahatkan diri untuk esok hari
Senja masih saja belum menjawab
Senja telah pergi
Malam telah datang
Hanya ada hati tergiris pilu
Sadar tidak terlihat ada mungkin
Penghubung duniaku dengan duniamu
Hanya ada rindu meronta
Ingin menggapai engkau
Wahai kekasih hati
Nantikan saja, ketika saatnya tiba
Kan kujenguk dirimu
Lalu langkah demi langkah berlanjut
Tanpa tahu lelah itu
Mencari aku,
Melewati beribu senja.


Dana lagi jatuh cinta ya?
itikkecil
Agustus 12, 2008 at 8:30 am
kata acep zamzam noor dalam puisinya “Rambut Ikal”, bagian 4: “Mengagumi senja merupakan pekerjaan orang yang dimabuk cinta.”
hanny
Agustus 12, 2008 at 11:01 am
Hanya ada rindu meronta …..
nama saya disebut sebut.
Rindu
Agustus 12, 2008 at 11:35 am
cinta, kadang memang mengalahkan logika.
scouteng
Agustus 12, 2008 at 5:27 pm
@itikkecil
Itu dulu.
@hanny
Iya, entah kenapa memang senja punya getar romantisme tersendiri.
@Rindu
Meronta nggak nih?
@scouteng
sangat.
dana
Agustus 12, 2008 at 7:22 pm
matahari konon itu simbol sebuah harapan, mas dana. ada banyak cara utk menggapai harapan itu meski harus terus berjalan tanpa batas menembus senja. semoga matahari itu akan muncul di ufuk timur keesokan harinya ….
sawali tuhusetya
Agustus 13, 2008 at 8:55 am
boljug… (sambil manggut2 )
Indah Sitepu
Agustus 13, 2008 at 11:48 am
senja selalu saja mengisyaratakan perpisahan…
salam, dari ujung langit..
peristiwa
Agustus 14, 2008 at 1:00 am
Kenapa jika orang lagi sendu, puisinya seringberkisah tentang senja atau malam…atau bulan purnama.
Sedang yang lagi semangat….mentari pagi….
Semoga senja, segera berganti menjadi mentari pagi…dan ketemu kekasih hati
edratna
Agustus 14, 2008 at 7:18 am
romantisme senja membuat kadang kita tercekat.
iman Brotoseno
Agustus 14, 2008 at 1:06 pm
mengagumi senja memang perbuatan orang yang dimabuk cinta, tapi senja sendiri banyak dipakai penyair dan p[engarang untuk menyatakan usia tua atau sebuah keterlambatan.
tafsir puwisi :
dana mencintai seorang wanita, tetapi dia merasa telah terlambat karena si wanita udah terlanjur uzur…..
*dilempar nenek-nenek*
ndarualqaz
Agustus 14, 2008 at 3:49 pm
@sawali tuhusetya
Semoga pak.
@Indah Sitepu
Makasih.
@peristiwa
Senja memang batas.
@edratna
Itulah romantisme bu.
@iman Brotoseno
iya mas. Senja punya sesuatu memang.
@ndarualqaz
Tafsirnya hampir benar sih.
dana
Agustus 14, 2008 at 7:40 pm
Perempuan kadang diumamakan sebagai senja… kenapa yach…
saya malah mengumpamakan senja sebagai usia, sehingga kala senja datang, bukan romantisme yang hadir, tetapi rasa ingin beristirahat dan behenti sejenak, menoleh kebelakang, melihat tapak demi tapak yang sudah dilewati… sudahkah saya berjalan di rel yang benar… senja memampukan saya melihat, karena ketika kepekatan malam mulai turun, jejak itu menghilang… aku tidak lagi sanggup melihat.
Ahhh… semoga senjamu menyenangkan ya masss…
silly
Agustus 15, 2008 at 8:34 am
Assalamu’alaikum wr.wb.
Kang Danaaa I miss u
Maafkanlah aku njenengan datang ke Buntet Pesantren tapi aku gak ada. Kasian deh loh! kata Karjo. Aku di Jakarta mas..
Saya mengucapkan terima kasih atas kunjungannya, dan mohon maaf baru kali ini bisa sempat berkunjung ke “rumah” mayamu. Kapan2 kita ngopi susu bareng ya. Lagian saya sebenarnya yang perlu susu, karena awakku tak sesubur awakmu. hehehe
—————-
senja, ahh… bahasa yang menakutkan bagiku.
sebab aku merasa masih pagi tapi diingatkan sampean kepada senja….
kurt
Agustus 16, 2008 at 8:24 pm
merdeka….! senja tempat di hati, bukan di ujung hari atau di pangkal malam.
panda
Agustus 16, 2008 at 8:40 pm
@silly
Senja memang berjuta rasa. Kadang menyenangkan, kadang menyedihkan.
@kurt
Salah dana kali nih kang kurt.
@panda
Senja yang merdeka rasanya sangat indah.
dana
Agustus 17, 2008 at 3:37 pm