Cerita Dana

Karena hidup adalah tentang bercerita

Masih Dialog Rakyat

with 15 comments

 

Kicau burung, gemerisik dedaunan. Saat udara masih sejuk membelai. Pak Tongat dan Bu tongat tampak duduk di beranda salah satu rumah. Di desa tempat asal Pak Tongat. Sedang berbincang-bincang.

“Bu, bentar lagi kan pemilu. Kira-kira Ibu hendak memilih siapa? “

“Eh, rahasia itu Pak. Tidak boleh dikasih tahu kata Pak Kades.”

“Iya Bu, memang tidak boleh memberitahukan orang lain akan pilihan kita. Tapi saya kan bukan orang lain Bu. Saya ini belahan jiwa Ibu. Iya toh. “

“Ah, Bapak bisa saja.” Bu Tongat tersenyum manis

“Jadi mau milih siapa Bu? “

“Wah, siapa ya Pak? Saya belum terlalu kenal pada calon-calonnya. “

” Lihat saja para calonnya di sini Bu. Ada profil, janji-janji, berserta photonya di sini. ” Pak Tongat mengangsurkan Koran yang baru saja dibacanya ke Bu Tongat.

“Hem… ” Bu Tongat mengamati sejenak, lalu ” Oh, saya pilih Pak Dudu Surududu saja Pak. “

“Cepat juga Ibu menentukan pilihan. Sepertinya sampai hari ini, saat saya tanyakan Ibu belum menentukan pilihan. Bahkan sepertinya Ibu baru tahu calon-calon presidennya saat membaca di Koran itu. “

“Memang Pak, saya baru tahu calon-calonnya. “

“Lantas, dari apa Ibu menentukan pilihan. Apa dari janji-janji yang tertulis di Koran itu? “

“Tidak Pak. Bukan dari janji-janji itu. Sebab saya lihat janji-janji para calon itu hampir sama semua. Hanya bahasanya saja yang berbeda. “

“Lantas … ? “

“Dari senyumnya Pak. “

“He, senyumnya?!” Pak Tongat sampai tersedak saking kagetnya.

“Iya pak dari senyumnya. Kok kaget begitu pak. ” Bu Tongat mengelus punggung Pak Tongat yang masih terbatuk-batuk.

“Habis Bu. Dimana-mana orang-orang menilai para calon-calon itu dari meramal kemampuan setiap calon dalam memenuhi janji-janjinya. Lah, ini ibu dengan enteng memilih dari senyumnya. Memang senyumnya Pak Dudu itu bagaimana bu? Sampai ibu memilihnya. “

“Begini Pak. Saya lihat senyumnya Pak Dudu itu begitu tulus. Rasanya tentram melihat senyum yang seperti itu. “

“Oh, begitu. Hem… mungkin kamu benar Bu. Semoga saja senyum itu bukan produk kepalsuan. Sebab di negeri ini rasanya apa saja bisa dipalsu. “

“Sepertinya sih tidak palsu Pak. “

“Semoga saja Bu.”

“Yuk, ke dalam Pak..Kita sarapan dulu. Sudah ditunggu Tongat sama Ibu. “

Lalu mereka masuk ke dalam rumah. Meninggalkan semua percakapan baru saja di luar, menguap ke langit. Koran itu masih tergeletak di meja. Angin membuka hingga halaman yang ingin di baca alam. Tampak artikel tentang betapa para calon-calon itu menyewa konsultan pencitraan diri yang profesional. Dimana salah satu yang ditata adalah senyum para calon. Senyum yang harus kelihatan tulus seperti senyumnya para malaikat.

Written by dana

Juli 28, 2008 pada 6:25 am

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , , ,

15 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. mungkin karena senyum adalah ibadah yang paling mudah :D
    jadi Bu Tongat kepincut ;)
    ______________________
    padahal, arti senyum kan beragam, ya Bang? :lol:

    goop

    Juli 28, 2008 at 9:09 am

  2. wakakakak……..
    It’s a blogtainment too, Bro?

    kangtutur

    Juli 28, 2008 at 10:36 am

  3. Bu Tongat tu psikolog ya?
    Bisa tau arti senyum orang..
    hihihi..

    phiy

    Juli 28, 2008 at 11:31 am

  4. Ahh, tulisan yang lucu tapi menyejukkan.

    semoga senyum yang di lihat bu tongat itu benar2 senyum yang tulus yach.

    silly

    Juli 28, 2008 at 11:20 pm

  5. @goop

    Senyum beribu artinya. :D

    @kangtutur

    Cuma bertutur kang.

    @phiy

    Kamu kan yang psikolog phy. Bu Tonga mah cuma ibu rumah tangga.

    @silly

    Semoga saja ly.

    dana

    Juli 29, 2008 at 6:07 am

  6. jangan tertipu oleh senyum…
    ngomongin senyum jadi inget duit 50 ribuan jaman dulu :smile:

    baliazura

    Juli 29, 2008 at 10:06 am

  7. Kalo Dudu Surududu emang ngeboongin senyum Bu Tongat itu…. aku doain dia dapat perawatan terbaik di RS Pertamina…. hihihi…

    godamn

    Juli 29, 2008 at 7:47 pm

  8. Saya… senyum aja baca ini :)

    hanny

    Juli 30, 2008 at 12:59 am

  9. Ngomeng ape seh? kaga mutu amat, kagak sesuai dengan promosinyeee..
    mungkin daripada ngga nulis, boleh jugalah..

    ditho

    Juli 30, 2008 at 2:44 am

  10. @baliazura

    Senyum yang sangat kebapakan ya?

    @godamn

    Moga saja nggak ngeboong.

    @hanny

    Kenapa han?

    @ditho

    Hem…

    dana

    Juli 30, 2008 at 7:04 am

  11. jangan tertipu senyum kumis atau tetekbengek lainnya… hekekekek

    Anang

    Juli 30, 2008 at 12:11 pm

  12. kereeen kang….
    tp memang terkadang senyuman tulus sangat sulit untuk bisa keluar…
    senyum “yg seolah2″ tulus gampang banget di buat….
    makanya untuk urusan yang satu, senyuman bukan ukuran (lha wong semuanya pada senyum kok, samapai nongol giginya :D )
    lam kenal kang…..

    afwan auliyar

    Juli 30, 2008 at 1:40 pm

  13. numpang baca yaa…
    ahaha~ ada2 aja!
    salam kenal..

    mitadriani

    Juli 31, 2008 at 1:46 am

  14. senyum mereka banyak yang gak tulus……..

    itikkecil

    Juli 31, 2008 at 10:44 am

  15. @Anang

    Tul, jangan sampai tertipu. *tapi keknya udah deh*

    @afwan auliyar

    Seharusnya sih gitu. Tapi tahu sendiri rakyat ini. :D

    @mitadriani

    Salam kenal.

    @itikkecil

    sepertinya sih …

    dana

    Agustus 1, 2008 at 6:54 pm


Tinggalkan Balasan