Cerita Dana

Karena hidup adalah tentang bercerita

Archive for Juli 2008

Fundamentalisme dan Globalisasi

with 6 comments

Sejumlah orang tampaknya berpindah dari satu fundamentalisme ke fundamentalisme yang lain, dari semacam fundamentalisme sekuler ke fundamentalisme religius, atau sebaliknya, yang sangat tak membantu.

Petter L. Berger. Sosiolog Austria

 

Globalisasi telah mengubah kita menjadi sebuah perusahaan yang memburu dunia, tak hanya untuk menjual atau menabung, tapi juga untuk mendapat modal intelektual-orang paling berbakat di dunia dan gagasan-gagasan besar.

Jack Welch, Industrialis Amerika

 

Aku memikirkan gagasan tentang cinta yang sempurna sebagai sesuatu yang tanpa takut, dan apa artinya itu bagi kita dalam sebuah dunia yang semakin xenophobia, teraniaya oleh fundamentalisme dan nasionalisme.

Bell Hooks, Kritikus Amerika Serikat

 

Jika kamu buta aksara total dan hidup hanya dengan satu dolar setiap hari, manfaat globalisasi tak akan menyentuhmu.

Jimmy Carter, Mantan Presiden Amerika

 

Dalam banyak contoh, mars untuk globalisasi berarti juga marginalisasi wanita dan gadis. Dan itu harus berubah.

Hillary Clinton, Politikus Amerika


Ketamakan dan globalisasi bukan kesalahan amerika saja.

Ario Guthrie, Musisi Amerika

 

Sumber, Koran Tempo, Minggu, 13 Juli 2008

Written by dana

Juli 31, 2008 at 6:42 am

Ditulis dalam Keseharian

Ditandai dengan , , ,

Masih Dialog Rakyat

with 15 comments

 

Kicau burung, gemerisik dedaunan. Saat udara masih sejuk membelai. Pak Tongat dan Bu tongat tampak duduk di beranda salah satu rumah. Di desa tempat asal Pak Tongat. Sedang berbincang-bincang.

“Bu, bentar lagi kan pemilu. Kira-kira Ibu hendak memilih siapa? “

“Eh, rahasia itu Pak. Tidak boleh dikasih tahu kata Pak Kades.”

“Iya Bu, memang tidak boleh memberitahukan orang lain akan pilihan kita. Tapi saya kan bukan orang lain Bu. Saya ini belahan jiwa Ibu. Iya toh. “

“Ah, Bapak bisa saja.” Bu Tongat tersenyum manis

“Jadi mau milih siapa Bu? “

milih siapa ya?

Written by dana

Juli 28, 2008 at 6:25 am

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , , ,

Putih

with 20 comments

 

Entah dari mana dulu asal mulanya. Hingga saat ini cantik telah disamakan dengan kulit putih. Betapa pemilik pabrik kosmetik telah menjadi milyuner berlandaskan isu tentang putih ini. Betapa iklan-iklan begitu menampilkan betapa mudahnya hidup hanya bagi wanita-wanita yang berkulit putih. Tentu saja putih yang cantik.

Putih dulu, setahuku, adalah bagian dari bendera negara Indonesia yang melambangkan sebuah ikrar suci untuk bernegara dan menjadi sejahtra bersama. Bukan soal cantik tidaknya seorang wanita, walau negeri ini sering disebut sebagai Ibu. Ibu pertiwi. Yang memang sering digambarkan sangat elok. Dengan rayuan pulau kelapanya. Tapi tidak ada sebersit kata tentang putihnya kulit ibu pertiwi.

Lantas bagaimanakah?

Written by dana

Juli 25, 2008 at 6:13 am

Ditulis dalam Opini

Ditandai dengan , , , , ,

Luka itu ada

with 13 comments

Luka itu ternyata masih ada
terdiam di sudut berdebu
menunggu sekedar sentuhan ringan
membangkitkan kenangan

Luka itu ternyata masih ada
sabar di pojok gelap
menunggu jendela menghantar cahaya
ketika terbuka walau secelah

Ah, Luka …

Written by dana

Juli 23, 2008 at 12:18 pm

Ditulis dalam Puisi

Ditandai dengan , ,

Rusunami yang Tidak Tepat Sasaran

with 23 comments

 

Sudah pada tahu program pemerintah tentang Rusunami belon? Kalo belum ya cari tahu dunk, hari gini loh. Itu kan program pemerintah untuk menyediakan tempat bermukim di tengah kota Jakarta. Dan lumayan loh rusunami ini. Sebab sudah hampir bisa dianggap kelas apartemen. Apartemen yang murah terjangkau.

Bedanya dengan apartemen mewah yang sebenarnya adalah tanpa AC dan fasilitas mewah lain. Kalo sekedar kolam renang sih ada. Katanya sih memang sengaja begitu, sebab Rusunami ini dibangun untuk kalangan menengah ke bawah. Jadi bukan untuk orang kaya. Harganya sih menjangkau. Dari 90 jt an sampai 150 jt an.

lantas apanya yang tidak tepat?

Written by dana

Juli 21, 2008 at 7:25 pm

Pengertian

with 12 comments

Pengertian yang dipaksakan tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Sebab akan selalu ada nurani yang berusaha mengemukakan kebenaran. Kebenaran yang terus menelusup melalui setiap celah yang ada.

Written by dana

Juli 19, 2008 at 12:08 am

Ditulis dalam Keseharian

Ditandai dengan , , , ,

Menangis

with 23 comments

YA!
Aku lelaki telah menangis
miris memandang manusia berebut
kebenaran di antara desu peluru
menunduk mencari perlindungan
di relung hati yang terdalam
akan sebuah damai

terus menangis …

Written by dana

Juli 16, 2008 at 10:01 pm

Ditulis dalam Puisi

Ditandai dengan , , ,

Dialog Rakyat

with 24 comments

 

Dialog yang terjadi di sore hari setelah tadi siang Tongat menangis saat diantar pulang teman-temannya. Luka tampak di lutut dan siku. Berikut sepeda yang tampak penyok di sana sini.

“Pak, tadi si Tongat jatuh di jalan rusak itu. Tidak bisa apa jalan rusak itu debenarin? Sebelum banyak korban. ” Bu Tongat menyambut kepulangan Pak Tongat dari kantor.

“Bu, Bapak kan bukan pejabat pemerintah. Jadi jangan minta ke Bapak.”

“Duh, Bapak ini. Saya bukannya minta Bapak memperbaiki jalan. Saya cuma minta Bapak mengusulkan ke lurah agar bisa meneruskan ke instansi yang berwenang. Kan Bapak teman main gapleknya pak Lurah. “

pak tongat menjawab apa ya?

Written by dana

Juli 14, 2008 at 7:00 am

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , , , , ,

Menghantar Mati ?

with 16 comments

I

Air mata mengalir tak tertahan
Sang maut tanpa pertanda menampakkan diri
dalam balutan jubah hitam menebar aroma kematian
Sebentar lagi menjadi nyata pada orang terkasih
Mataku memancarkan aroma dendam tak berdaya
Aneh, sang maut malah tersenyum
Bersemangat memberi kabar dibalik bayang-bayang
meremas hati sampai hancur, tak bersisa
Melihat orang tersayang semakin lemah
dalam naungan aroma aneh yang ditebarkan
Seringai sang maut menatap dingin
menggeletar rasa tertutup kabut berselimut maut
yang mengembang tanpa dapat ditahan.

kemudian?

Written by dana

Juli 11, 2008 at 7:35 am

Ditulis dalam Puisi

Ditandai dengan , , , , ,

Fallacy

with 11 comments

Ketika fallacy yang menjadi landasan pendapat, maka tidak ada lagi yang perlu didiskusikan. Sebab hal itu telah menyebabkan sesuatu yang kamu klaim pasti benar menjadi tidak pasti.

Written by dana

Juli 10, 2008 at 6:57 am

Ditulis dalam Keseharian

Ditandai dengan , , , , , ,