Teruntuk Adik Adik Mahasiswa
Teruntuk adik mahasiswa (njrit! Ternyata gue dah tua jugak) ,
Begini. Saya sebagai bagian dari rakyat yang katanya sedang kalian perjuangkan itu merasa berhak untuk angkat suara juga. Menyuarakan apa yang saya rasakan dari pengalaman akan aksi-aksi jalanan kalian. Terus terang tulisan ini setelah saya sendiri mengalami bagaimana tidak enaknya terjebak dalam sisi kelam aksi kalian. Betapa tidak dengan mata kepala sendiri saya lihat mobil yang terbakar itu. Walau cuma satu mobil sih, tapi takutnya jika tidak dikritisi berikutnya semakin banyak yang terbakar.
Awalnya saya merasa wajar atas kemacetan yang ditimbulkan. Toh memang harga yang harus dibayar demi yang katanya perjuangan. Saya melihat asap menjilat angkasa, saya masih berusaha maklum. Toh paling yang dibakar adalah ban, walau saya kurang setuju dengan tindakan ini, tapi saya maklum sebagai sarana untuk menarik perhatian. Mungkin memang diperlukan karena kebebalan para bapak/ibu di pemerintahan. Atau untuk rakyat yang sudah apatis. Tapi ketika dekat dengan lokasi, saya sedih dik. Kok ya, gerakan mahasiswa jadi begini?
Begini dik, terus terang waktu itu saya sangat sedih. Ada rasa marah tercampur. Kok ya mahasiswa sampai membakar mobil begitu. Apa memang sudah sedemikian terbakar dendam pada pemerintah? Perlu saya ingatkan, ketika tindakan sudah didasarkan pada dendam maka hanya kehancuranlah ganjarannya. Mungkin perlu meletakkan koma dulu pada perjuangan itu, berkaca diri. Sebelum akhirnya terlanjur anarkis menjadi titik yang menutup perjuangan kalian. Betap sia-sianya jika sudah begitu.
Jadi dik, janganlah tutup telinga kalian dari kritikan. Terima dan pelajarilah. Sebab bisa jadi kalian memang ada salah. Kalian kan memang manusia (masih muda lagi) , bukan malaikat atau nabi. Jadi tidak perlu malu mengakui kesalahan. Semoga dengan begitu akhirnya perjuangan kalian bisa meraih simpati rakyat. Sebab bukan kalian yang menentukan sukses tidaknya perjuangan itu, tapi rakyatlah yang menentukannya.
Oh, iya dik. Satu lagi, kok rasanya tuntutan untuk menurunkan harga BBM itu tidak realistis. Sebab BBM memang sudah kodratnya bakal naik terus. Gosipnya malah bakal mencapai 200 dolar per barel. Tidak mungkin pemerintah menanggung semua itu dik. Bisa hancur-hancuran sektor lain, hanya demi subsidi. Ingat dik, kodrat itu tidak bisa dilawan. Hanya bisa diikuti.
Saran saya buat adik, tuntutlah hal yang realistis. Misalnya menuntut agar pemerintah bekerja sangat keras untuk peningkatan taraf hidup rakyat. Atau yang paling dekat penuntutan agar pemerintahan bisa bersih dari korupsi. Rasanya tuntutan yang begitu lebih mengena, dan tidak mengawang-ngawang. Atau kalau adik mampu, ciptakan bahan baker alternatif yang lebih murah. Simpati rakyatpun niscaya mengalir tanpa diminta.
Tulisan yang menginspirasi:


Sejujurnya… ini yang saya khawatirkan tidak akan mereka dapatkan lagi jika masih mental-mental preman ala eF-Pi-aI yang ditonjolkan dalam setiap aksi.
Saya tidak keberatan pagar DPR copot atau bahkan gedung di Senayan itu dirobohkan sekalian. Tapi mencari perkara dengan membuat masyarakat terzalimi, itu yang saya maki-maki sebagai ketololan.
Bentrok dengan aparat, sudah jamak. Tapi bentrok dengan masyarakat? Bunuh diri namanya
alex®
Juni 29, 2008 at 2:37 pm
nah dengerin tuh nasehat dari orang tua…..
kalo mau demo tuh mikir dulu yang beres, belajarnya jangan nanggung…. kakak-kakak lu tuhh sayang ma elu-elu semua tau… jangan mau menang sendiri aja…. kayak bapak-bapak lu… di DPR sana…. hihihi…..
godamn
Juni 29, 2008 at 6:39 pm
Mas, mahasiswa cuma melakukan apa yang mereka tahu bisa berhasil, kalo mungkin sekarang kita bilang demo itu kebablasan mungkin benar, but really what other viable option do they have. Kita gak bisa sekadar mengecam tanpa memberikan working solution agar suara mereka didengar, dan paling tidak selama mereka masih mahasiswa saya percaya suara mereka masih merupakan suara nurani bangsa ini.
mengenai apakah tuntutan mereka realistis atau tidak, all I can say is, siapa yang menetapkan batas realistis tersebut? Buat saya pribadi kenaikan harga bbm mungkin bisa jadi realistis jika pemerintah sudah melakukan segala sesuatu yang ada dalam batas kemampuannya untuk mencegah kenaikan harga bbm. Tapi apa pemerintah sudah melakukan hal tersebut? Apakah mereka sudah melakukan penghematan? Apakah mereka sudah berusaha meningkatkan kemampuan produksi minyak? Apakah mereka sudah bersungguh2x berusaha mengatur ulang bagi hasil tambang minyak yang dikelola asing? Berat? Pasti, segala sesuatu yang baik pasti butuh usaha yang extra, tapi saya percaya kalo WILL-nya ada pasti bisa. Saya melihat ada miss-management dalam skala besar (kalo gak mau bilang raksasa) dalam pengelolaan pemerintah kita.
Saya pecaya bahwa saat ini adalah saat yang akan menentukan kelanjutan kita sebagai sebuah bangsa dan kalo sebagai rakyat kita apatis dan cuma memikirkan kepentingan kita sendiri-sendiri – yang maaf kalo saya bilang remeh-temeh – then this country is sure beyond any salvation.
NB: maaf kalo jadi panjang, but I really fear for this country.
Shinte Galeshka
Juni 29, 2008 at 7:44 pm
@alex®
Nah, itu dia lex. Kalo simpati rakyat semakin menjauh, bisa di tebak akhir dari perjuangan itu. Nol besar.
@godamn
Belon setua itu kali.
Weh, boleh juga tuh nasehatnya. Jangan sampai bertindak kayak bapak-bapak di dpr itu. Mau menang sendiri. *mencatat*
@Shinte Galeshka
Kenapa sih setiap kritik selalu diminta solusinya? Jadi kalo sesuatu itu dirasa salah, tapi berhubung tidak tahu solusinya, lalu didiamkan saja. Begitukah?
Lalu, apa jika benar karena mis management lantas dipaksakan pemerintah untuk mensusidi? Lah, bisa hancur sektor lainnya. Negara kita tidak sekaya arab sana yang bisa mensubsidi BBM sesukanya.
Btw, tidak tepat meminta pemerintah mencegah kenaikan harga. Sebab harga naik itu mendunia, bukan di Indonesia saja. Yang bisa dilakukan pemerintah adalah menaikkan taraf hidup rakyatnya, agar tidak menderita akibat kenaikan BBM. Itulah yang saya minta pada mahasiswa menuntutnya. Bukan malah menuntut harga BBM turun.
Saya malah percaya setiap detik itu memang menentukan kelanjutan bangsa ini. Makanya saya minta jangan bakar-bakar mobillah. Mau jadi apa negara ini jika kelakuan rakyatnya begitu.
dana
Juni 29, 2008 at 8:35 pm
Ya. Hasilnya kesia-siaan belaka. Dan itu benar-benar bunuh diri namanya
alex®
Juni 29, 2008 at 10:13 pm
@Dana
Kenapa sih setiap kritik selalu diminta
solusinya? Jadi kalo sesuatu itu dirasa salah,
tapi berhubung tidak tahu solusinya, lalu
didiamkan saja. Begitukah?
Pertama, gak harus selalu, dengan menyuarakan kritikan kita saja pun itu sudah sangat berarti koq, tapi kalo ada solusi yg ditawarkan kayaknya bisa lebih baik.
Kedua, ini juga sebuah pertanyaan. Saya juga gondok koq kalo ngeliat demo yang sampai mengakibatkan tindak kekerasan baik oleh aparat maupun mahasiswa. Tapi ketika aspirasi itu gak bisa disalurkan ya demo adalah viable option yang bisa diambil. Di permukaan pertanyaannya adalah bagaimana agar demo bisa berlangsung tanpa menimbulkan tindak kekerasan. Di tingkat yang lebih mendasar pertanyaannya adalah gimana agar aspirasi rakyat itu bisa tersalurkan dan mendapat respon yang sesuai dari pemerintah yang bersangkutan.
Agar demo dapat berlangsung dengan terkontrol salah satu alternatif yang bisa diambil menurut saya adalah ketegasan yg adil dari aparat. Perlengkapi aparat dan latih tekhnik penanganan demo sebaik mungkin. Di tingkat yang lebih mendasar itu yang lebih sulit, namun saya rasa ini harus dicarikan pemecahannya. Menurut saya pemilu yang 5 tahun sekali itu sgt tidak cukup, begitu juga dengan kondisi perwakilan rakyat yang ada sekarang ini. Mungkin referendum bisa digunakan tapi saya gak tahu pertimbangan ketatanegaraannya (btw – sepengetahuan saya di swiss untuk mengadakan Euro 2008 ini pun pake referendum lho, cmiiw)
Lalu apa benar jika karena mis management
lantas dipaksakan pemerintah untuk
mensubsidi? Lah bisa hancur sektor lainnya.
Negara kita tidak sekaya arab sana yang bisa
mensubsidi BBM seenaknya.
Btw, tidak tepat meminta pemerintah
mencegah kenaikan harga. Sebab harga naik
itu mendunia bukan di Indonesia saja. Yang
bisa dilakukan pemerintah adalah menaikan
taraf hidup rakyatnya agar tidak menderita
akibat kenaikan BBM. Itulah yang saya minta
pada mahasiswa untuk menuntut. Bukan
malah menuntut harga BBM turun.
Saya koq kurang setuju dengan kata subsidi, karena pemerintah tidak benar-benar keluar uang untuk menomboki harga BBM. Yang terjadi dlm pandangan saya adalah oportunity loss. Karna setahu saya biaya produksi & distribusi minyak bumi masih jauh dibawah harga jual pemerintah. Yang terjadi adalah bhw pemerintah tidak bisa menjualnya sesuai harga pasar. Seingat saya di UUD45 masih ada pasal yang menyatakan bahwa “bumi, air dan seluruh kekayaan alam dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” (gak inget exact word-nya tapi kira-kira begitulah) implikasi dari pasal ini pemerintah tidak boleh tunduk pada rezim harga pasar ketika kemampuan daya beli rakyat (atas bbm) masih dibawah harga pasar. Hal inilah menurut saya harus diutamakan, efeknya pemerintah harus mengusahakan sekuat tenaga baik untuk mencegah kenaikan bbm sekaligus meningkatkan kenaikan taraf hidup rakyat. Nah saya sejujurnya blm melihat pemerintahan melakukan hal ini karena itu kenaikan itu harus ditunda sampai hal ini (pembenahan management dan peningkatkan taraf hidup rakyat – ya saya setuju dengan anda dalam hal ini) dilaksanakan lebih dulu. Btw sepemahaman saya demo yang terjadi adalah menuntut pembatalan kebijakan kenaikan bbm bukan minta penurunan harga bbm dan itu pun hanya di Indonesia bukan harga bbm dunia.
Saya malah percaya tiap detik itu memang
menentukan kelanjutan bangsa ini.
Agreed, itu yang saya coba sampaikan.
Makanya saya minta jangan bakar-bakaran
mobillah mau jadi apa negara ini jika
kelakuan rakyatnya begitu.
Saya juga sakit ngeliat tindak kekerasan yang terjadi baik oleh aparat maupun mahasiswa. Namun aspirasi rakyat haruslah ada penyalurannya. Untuk saat ini saya kira blm ada viable alternatif untuk hal ini selain demo karenanya aparat harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin sehingga dapat bersifat tegas, adil dan jujur dalam mengawal mekanisme demo ini.
NB: sekali lagi maaf ya mas kalo panjang banget.
Shinte Galeshka
Juni 29, 2008 at 11:34 pm
@ Shinte Galeshka
Secara teknis, apa yang anda sampaikan itu yang membuat saya memandang demonstrasi tetap menjadi “keharusan”, lepas dari apakah chaos atau pun tidak.
Lagian saya geram sama itu aparatur pemerintahan, dari yang di jalanan dalam seragam polisi/militer sampai yang di kantor pemerintahan: KOK BISANYA CUMA NGELES DENGAN MENYALAHKAN DEMONSTRASI MAHASISWA?
Itu kemarin kejadian paska demonstrasi di DPR, yang menyerang mahasiswa ketika mahasiswa sudah mundur justru aparat berpakaian preman. Jangan alasan deh “polisi juga manusia, wajar jika emosi…”. Dalih itu namanya. Apa bedanya itu polisi dengan demonstran? Mana pake adegan tunjang-tunjangan plus ngeroyok kaya preman lagi.
Di negara tak berpancasila saja demonstran dilumpuhkan dengan efektif dan efisien utk kemudian ditangkapi dan diakui hak-haknya, seperti mendapat pengacara, ada surat penangkapan (jika dicurigai ada unsur pidana), etc. Di negara ini? Yang dikirim pemerintah cuma tukang pentung yang menang seragamnya saja.
Bicara masalah subsidi-subsidi itu… hahahaha… alasan kacangan itu kalo pemerintah akan bangkrut kalo memaksakan bayar subsidi. Lagian masalah BBM ini bukan tok urusan subsidi atau BLT ribuan dalam jumlah cepek-lembar™ itu. Kompensasi dalam bentuk pelayanan kesehatan, pendidikan, program sosial… yang mana yang jalan? Lumpur Sidoarjo saja ndak beres karena perkoncoan si Abu Rizal Bakrie itu.
Terkadang, sisi sadis dalam diri saya mengatakan: memang mesti ada darah, keringat, nanah, bensin dan botol kecap utk perlawanan anak-anak mahasiswa ini. Saya juga mantan mahasiswa, dan sempat merasakan pahit-manisnya semangat perlawanan saat kampus dikepung dan masyarakat cuma bisa diam meski mengangguk pelan-pelan sebagai persetujuan.
Saya ndak terima kalau hari-hari ini pergerakan mahasiswa dan kaum muda tersudutkan cuma karena sekelompok mental bajigur nongol di kalangan mahasiswa, dengan nyali tempe yang petantang-petenteng sama masyarakat dan bukan sama pemerintahan busuk yang tak punya nyali di hadapan pasar dan hutang ini.
alex®
Juni 30, 2008 at 12:56 am
@Shinte Galeshka
Perlu diingat saya tidak pernah melarang untuk berdemo. Saya hanya meminta demo itu ya mbok jangan bakar mobil dan jangan menuntut yang tidak mungkin sehingga kesannya kok malah mau menang sendiri. Lantas apa bedanya dengan pemerintah jika begitu. Dan catat, keduanya menyatakan mereka bertindak demi kepentingan rakyat.
Soal BBM. Ingat bahwa kita itu adalah net importir bukan lagi net eksportir. Atau bahasa gampangnya produksi dalam negri sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan BBM nasional. Sehingga harus mengimport dari negara lain. So masih menganggap hanya kekurangan keuntungan aja?
Btw, kenapa sih ngotot sekali meminta penuruan harga BBM? Kenapa tidak bisa menerima saran untuk meminta peningkatan taraf hidup saja?Toh tujuan akhirnya kan tetap demi rakyat.
NB:
ingat, saya juga adalah bagian rakyat yang katanya diperjuangkan itu. Nah kalo suara rakyat sudah tidak didengar. Saya jadi bertanya yang dibela itu rakyat yang mana? Apa hanya rakyat yang kebetulan sejalan pemikirannya dengan para mahasiswa saja?
dana
Juni 30, 2008 at 7:00 am
@alex
Ndak bakal bangkrut lex, cuma dana untuk sektor lain bakal kesedot buat nombokin subsidi.
Kalo ada yang ngga jalan, ya yang dituntut yang nggak jalan itu dijalankan. Nggak mesti menuntut penurunan harga BBM.
dana
Juni 30, 2008 at 7:04 am
Sekedar info aja:
Infonya dulu pas jaman orde baru Minyak (ingat bukan BBM, BBM malah lebih mahal lagi) itu sekitar $50 per barel. Bayangkan dengan harga sekarang yang sudah sekitar $140 per barel. Dan bayangkan nanti jika sudah $200 per barel. Jadi siap-siap saja bahwa BBM masih akan terus naik. Tidak bisa tidak. Kecuali kita berhasil menjadi net eksportir kembali.
dana
Juni 30, 2008 at 7:38 am
Tadi-nya sempat ada pembicaraan tentang berdemo di sekolah saya, karena hampir semua murid termasuk teman-teman saya di sekolah tidak terima dgn naeknya be be em. Trus ini ttg bbm sempat hot di obrolin mulu sambil pasang muka panas. lalu di akhir obrolan, untung saja kita pemikirannya sama dengan mas Dana, yaitu.
Sebenernya, yg paling bikin sengsara tuh bukan itu (CMIIW)
ah nevermind….
padahal aku hiatus, tapi kok masih blog walking yah??
DensS cessario
Juni 30, 2008 at 9:34 am
dengerin tuh kata kak Dana
saya sepakat, harus berhenti sejenak untuk melihat apakah aksi itu masih efektif atau tidak. kalau jadinya rakyat tidak merasa dibela, apa gunanya?
itikkecil
Juni 30, 2008 at 9:40 am
*merasa jadi adik mahasiswa*
terimakasih kakak nasehatnya
tapi saya mahasiswa tidak suka demo. sepakat!!
mezzalena
Juni 30, 2008 at 10:23 am
Saya setuju atas demo mahasiswa sepanjang itu sebagai gerakan moral, bukan gerakan anarkis yang merusak.
Saya lebih setuju, jika mahasiswa melakukan demo penemuan sumber energi alternatif yang dapat membantu masyarakat.
Saya lebih-lebih setuju, jika mantan mahasiswa yang pernah berdemo dan sekarang menjadi pejabat di pemerintahan untuk turut mendorong yuniornya melakukan penelitian tentang energi alternatif selain BBM.
Saya sedih melihat mantan mahasiswa yang dulu idealis dan pentolan demo, setelah menjadi pejabat hanya mengurus kepentingan kelompok dan partainya saja.
Saya lebih sedih lagi, jika ada orang tua miskin yang harus kehilangan anaknya akibat demo.
daeng limpo
Juni 30, 2008 at 12:34 pm
kok aku ngeliatnya demo-demo sekarang emang kaya diperbuas ya???
apakah gara-gara ngeliat waktu tahun ‘98 pada demo dan akhirnya menciptakan sejarah, trusan skrg jadi pengen menciptakan sejarah yang laen???
daripada demo…lebih baik kita nyari solusi yang real..
seperti kata aagym, dimulai dari hal yang kecil dan dari diri sendiri…
misalnya ngasih penyuluhan biar bisa make BBM irit ataw ngasih keterampilan sama masyarakat miskin…
sebenernya yang jadi masalah bukan BBM yang mahal khan?? tapi daya beli masyarakat yang kurang…
hehe..tapi saya juga cuman bisa ngemeng doank…
sez
Juni 30, 2008 at 1:01 pm
hmmm komen nya panjang panjang semua,,,
zoel chaniago
Juni 30, 2008 at 2:46 pm
Wah, ternyata dana lingga udah sepuh.
Sekedar usul asal:
Gimana kalo premium dinaikkan lagi jadi (misal) 10 ribu rupiah per liter? Tapi … itu untuk kendaraan-kendaraan pribadi (sama taksi juga kayaknya). Untuk kendaraan umum harganya jadi 4 rebu perak per liter.
Jadi mungkin mahasiswa-mahasiswi yang naik kendaraan pribadi (maupun taksi) nantinya yang demo. Nah, yang pada naik kendaraan umum (mungkin) gak pada demo & bakar-bakaran.
Tapi skema harga kayak gitu, penerapan di lapangannya susah kali ya?
Namanya juga usul yang asal.
Rully
Juni 30, 2008 at 3:14 pm
Perlu diingat saya tidak melarang untuk berdemo.
Okay.
Saya hanya meminta demo itu mbok ya jangan bakar mobil dan jangan menuntut yang tidak mungkin sehingga kesannya kok malah mau menang sendiri.
Saya pikir memang sebisa mungkin dihindari aksi kekerasan baik oleh mahasiswa ataupun aparat, dan saya agak lebih menekankan ke pihak aparat (kalo kita lihat disini pelaku kekerasan bukan hanya mahasiswa lho mas. lihat apa yang dilakukan aparat pada pendemo yang tertangkap, sampai ada anak smp yang juga ikut dihajar seperti itu, mereka itu aparat yang diperlengkapi, dilatih dan diperlengkapi untuk menangani aksi-aksi demo dan mereka harus bersikap profesional. Jangan bikin excuse “aparat juga manusia”).
Masalah tuntutannya yang menurut mas tidak mungkin itu sangat subyektif, dan kalo saya yang bilang malah kenapa pemerintah mau menang sendiri dengan memaksakan kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat dan bertentangan dengan konstitusi yang seharusnya mereka tegakan?
Perbedaannya antara pemerintah dan mahasiswa adalah pemerintah memang sudah digaji untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Mereka adalah pejabat publik yang dipilih oleh rakyat. Saat pemerintah itu gagal/tidak mampu/tidak mau memperjuangkan kepentingan rakyat ya harus ada mekanisme untuk mengkoreksi hal tersebut, salah satunya ya demo.
Soal BBM. Ingat bahwa kita itu adalah net importir bukan lagi net exportir. Atau bahasa gampangnya produksi dalam negeri sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan BBM nasional. Sehingga harus mengimport dari negara lain. So masih menganggap hanya kekurangan untung aja?
Mungkin benar sekarang kita adalah negara net importir, pertanyaannya adalah seberapa besar yang harus kita import? Berapakah nilai import tersebut? Apakah sedemikian besarnya? Berapa besar yang dikeluarkan untuk membeli minyak itu sendiri dan berapa besar yang habis untuk mafia-mafia minyak? Kedua gimana dengan upaya meningkatkan produksi minyak dalam negeri sendiri. Beberapa konsesi minyak yang sudah diberikan pemerintah banyak yang belum dikelola. Gimana dengan pengembangan sumber energi alternatif? Point saya yang utama adalah pemerintah seharusnya melakukan pembenahan terlebih dulu secara optimal – termasuk didalamnya peningkatan taraf hidup rakyat dan penghematan anggaran – serta transparan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan issue harga BBM ini. Saya pribadi gak menolak kenaikan harga BBM ini dengan syarat bahwa memang pemerintah sudah berjuang secara optimal dan terbuka. Jangan usahanya belum dilaksanakan, harga BBM-nya sudah dinaikan. Itu sama saja dengan membunuh rakyat.
Btw, kenapa sih ngotot sekali meminta penurunan harga BBM? Kenapa tidak bisa menerima saran untuk meminta peningkatan taraf hidup saja? Toh tujuan akhirnya kan tetap demi rakyat.
Karena kenaikan harga BBM ini mematikan masyarakat kelas menengah bawah, naikkan dulu taraf hidup rakyat baru kita bicara menyesuaikan harga BBM, jangan dibalik, karena kalo dibalik akibatnya rakyat kecil yang jadi korban. Lagipula jangan hanya harga BBM internasional saja yang dijadikan patokan rasanya pendapatan perkapitanya juga harus diperhitungkan.
NB:
ingat, saya juga adalah bagian dari rakyat yang katanya diperjuangkan itu. Nah kalo suara rakyat sudah tidak didengar. Saya jadi bertanya yang dibela itu rakyat yang mana? apa hanya rakyat yang kebetulan sejalan pemikirannya dengan para mahasiswa saja?
Bagaimana dengan rakyat yang sesungguhnya sangat terpukul oleh kebijakan ini namun tidak dapat menyuarakan penolakan mereka karena tidak ada jalur untuk mengaspirasikannya. Gimana dengan nelayan-nelayan yang sekarang gak bisa melaut karena gak mampu beli solar. Gimana dengan supir-supir angkutan umum yang pendapatannya tergerus habis sekalipun sudah menaikan tarif. Gimana dengan mereka apakah mereka bukan rakyat Indonesia juga?
Intinya sih mas, tangani demo-demo yang terjadi secara tegas, adil, profesional dan terbuka. Jangan cuma kalo mahasiswa melakukan kekerasan kita semua teriak tapi ketika aparat melakukan kekerasan kita diam. Kedua mengenai BBM, coba dibenahi dulu management-nya, disiapkan dulu infrastrukturnya (jangan mau membagi BLT tapi datanya kadaluarsa) dan pemerintah harus transparan terhadap segala sesuatu yang terkait dengan issue ini sebelum mengeluarkan kebijakan.
Shinte Galeshka
Juni 30, 2008 at 4:50 pm
*kesummon*
Ya..Ya.. Itu juga yang coba saya sampaikan pada teman2 saya sesama mahasiswa.
Tapi konon polisi itu pada pegal2 badannya kalo mahasiswa aksinya ga rusuh.
calonorangtenarsedunia
Juni 30, 2008 at 4:50 pm
makasih kak… iya, saya mendukug aksi damai … tapi gmn lagi yah cara yg lbh solutif agar pemerintah itu, bisa mengerti sbnernya realita di masyrkat…?
tp gmn lagi, sy dukung gerakan mhswa sepenuhnya, dgn cara yg lbh intelektual *ala mahasiswa*
tapinya lagi.. yg bakar2an aja ga di denger sm mereka, apalagi yg intelektual (diskusi, audiensi, aksi damai, dll)…
mahasiswa biasa
Juni 30, 2008 at 4:59 pm
kak., emang bener kodratnya bakal terus naek., tapi bukan sekarang kak saatnya., lha sekarang harusnya bisa gk naek kok malah dinaekin.? ya melawan kodrat kak namanya
oia., sekarang banyak sekali orang yang aksi di jalan mengaku ngaku sebagai mahasiswa seperti juga banyak sekali orang2 di luar sana yang mengaku rakyat
MERDEKA INDONESIA
inidanoe
Juni 30, 2008 at 5:14 pm
@DensS cessario
Saya kok lihatnya cuman emosi sesaat itu.
@ itikkecil
Tul, tarik nafas dulu itu penting loh. Biar jernih.
@mezzalena
Baguslah kalo sepakat.
@daeng limpo
Tampaknya kita sepemahaman dalam hal ini.
@sez
Iya, tuh ada benarnya. Rasanya tidak bakal efektif demo yang seperti itu.
Nah, itu dia, daya beli memang intinya.
@Rully
Belon terlalu sepuh kok rull.
Nah, gitu juga bagus tuh rul. Sebenarnya kalo aparatnya bener sama moral kita juga bener pasti bisa diterapkan sekema itu.
@Shinte Galeshka
Jadi kita telah sepakat soal demo tanpa kekerasan itu kan.
Dan mengenai aparat memang saya tidak mengkritisinya dalam tulisan ini. Saya khususkan tulisan ini pada mahawasiswanya. Jika anda ingin mengkritis aparat, silahkan ditulis di blog anda.
Karena mereka sudah tidak berdaya. Yang saya pahami jika subsidi dipertahankan yang mereka dapat lakukan adalah mengorbankan sektor lainnya. APBN kan ndak bisa diubah seenaknya. Walau bisa diubah , sumber keuangannya darimana? Bisa sih kalo mo jual pulau barang beberapa gitu. Jadi siap-siap saja mengorbankan pendidikan atau kesehatan misalnya. Itu juga buat rakyat bukan? Dan malahan lebih jangka panjang dampaknya jika dikorbankan.
Lihat komen saya di atas. Bahwa pemerintah juga merasa sedang memperjuangkan rakyat. Yakni memperjuangkan sesuatu untuk jangka panjang. Dan memang mungkin benar bahwa mereka tidak mampu, tapi siapa yang mampu menahan ketika yang naik itu harga dunia.
Silahkan cari sendiri soal seberapa besar. Kalo yang saya baca -baca sih cukup besar sehingga menggangu keseimbangan APBN.
Mengenai mafia minyak silahkan dibaca di http://rovicky.wordpress.com/2008/05/25/jual-beli-minyak/ , sebuah paparan yang netral.
Kalo yang belon dikelola saya tidak tahu seberapa besar. Yang saya tahu, banyak negara penghasil minyak memang membatasi produksinya. Itu mempertimbangka bahwa minyak bukan barang yang dapat diperbaharui. Jadi betapa bodohnya menggenjot produksi sekarang, tapi beberapa tahun kemudian malah kehabisan minyak. Kebayang nggak?
Silahkan tuntut pemerintah mengenai energi alternatif ini. Tapi bukan menuntut BBM turun.
Btw, saya kira itu bukan tugas pemerintah saja. Juga tugas kita-kita ini.
Masalahnya si BBM itu bandel, nggak mau nunggu pemerintah memperbaiki yang lain lain itu dulu. Si BBM tetap saja naik melonjak di seluruh dunia.
Dan pilihannya, mengurangi subisidi dulu atau mengorbankan sektor lain dulu. Dan kebetulan pemerintah memilih mengurangi subsidi daripada mengorbankan sektor lain dulu. Dan pertimbangannya (sepemahaman saya) adalah bahwa itulah pilihan terbaik untuk jangka panjang.
Jangan terlalu cepat memvonislah. Mana ada pemerintah yang mau membunuh rakyatnya sendiri.
Yakin?
Kan ada itu proyek-proyek untuk rakyat kecil. Kalo belon berjalan, ya dituntutlah itu yang dijalankan. Jangan malah menuntut harga BBM turun.
Sadar nggak bahwa justru jika pendapatan perkapita tinggi malah negara berarti sanggup mensubsidi BBM. Paradoks bukan?
Tapi sudah benar itu, tuntutlah pemerintah untuk menaikkan taraf hidup rakyat. Bukan nurunin harga BBM.
Dan saya tekankan sekali lagi, si BBM itu nggak mau menunggu. Dia udah membumbung ke langit.
Rakyat kok ada yang sesungguhnya, berarti ada juga yang tidak sesungguhnya ya?
Lah, itu kan persoalan yang spesifik. Jadi ada solusinya secara spesifik juga. Bukan turunkan harga BBM yang mengorbankan sektor lainnya. Bisa salah satu solusinya ya untuk rakyat-rakyat tersebut diberikan subsidi. Atau bantuan lainnya yang membuat mereka bisa hidup.
Sekali lagi solusi secara spesifik, bukan generalisasi turunkan harga BBM.
Ya, silahkan tuntut itu pada aparat.
Saya mah cuma menyuarakan suara saya tentang apa yang saya rasa terhadap demo kemarin itu. Dan saya fokus kepada mahasiwanya. Karena saya kasihan sama mereka. Semgangat berdemo namun ternyata rakyat jadi kehilangan simpati. Kan percuma.
Btw, sebenarnya anda sudah baca artikel saya belon sih? Kok kayaknya tulisan saya disalahpahami menjadi seakan-akan menyudutkan mahasiswa. Saya kan menyampaikan kritik jangan pake bakar bakar (sudah sepakat) dan bukan menuntut BBM turun (ini memang kita belon sepakat).
@calonorangtenarsedunia
Wah, jadinya para polisi nggak ada kerjaan ya han?
@mahasiswa biasa
Gimana kalo kedua belah pihak sama-sama berusaha mengerti pihak lain.
Justru karena bakar-bakaran itu makanya nggak didengar. Kan gampang mereka ngelesnya, lah itu tindakan anarkis. Ngapain mesti didengar. Begitu dek. Mudeng nggak?
@inidanoe
Sudah naik. Udah $140 dolar perbarel. Kapan lagi saatnya? Nunggu dana buat sektor lainnya kesedot habis dulu ya?
dana
Juni 30, 2008 at 7:20 pm
Kalau kami enggak demo entar dikatain mahasiswa tempe…lha terus piye mas…
katanya jadi mahasiswa perlu menyuarakan hati rakyat….lah kok ini malah di gugat bingung aku.
John Namru
Juni 30, 2008 at 7:37 pm
Yakin kamu mahasiswa? Toh baca artikel saya secara benar aja nggak bisa.
DI baca dunk , yang saya gugat itu apanya. Mahasiswa betulan kan nih?
dana
Juni 30, 2008 at 7:40 pm
Saya sudah kritik setiap aksi mahasiswa yang dilakukan menolak kenaikkan harga BBM bahkan semenjak harga BBM belum dinaikkan. Saya sangat yakin aksi-aksi ini tidak murni lagi dan sudah ditunggangi oleh ’setan gundul’. Untuk amannya, sebaiknya mahasiswa menarik diri saja dari isu ini. Pilihlah isu yang lebih ‘merakyat’, bukannya isu untuk membela ‘kepentingan orang kaya’ seperti ini. Lihatlah itu korupsi di senayan. Barusan ada lagi anggota dewan yang ditangkap. Salam kenal.
Rafki RS
Juni 30, 2008 at 10:58 pm
Yah, setuju juga deh mas. Paling ya cuma biar agak berimbang aja karena kekerasan yang terjadi bukan oleh mahasiswa aja, that’s all (sorry gak punya blog sendiri jadi gak bisa nulis soal ini deh, saya coba deh nanti kalo udah bikin blog sendiri)
Soal kenaikan BBM ya topiknya terlalu luas dan kayaknya ada beda perspektif antara kita ya udah deh agree to disagree aja lah.
Semoga ke depan demo yang pake kekerasan bisa dihilangkan aja.
Peace …
Buah mahasiswa : Demo Okay, Violance No Way.
Shinte Galeshka
Juni 30, 2008 at 11:00 pm
Sori.. OOT dikit ini…
Jadi gini…
Menurut teori Survival of The Fittest dari karya agung Darwin, “The Origin of Species”, yang namanya benturan dan persaingan hidup itu adalah kodrat. Masa sih… kalau pemikiran ilmiah yang mulia ituh diterima dgn ikhlas, intelegh, dan tawadhu’, lalu ndak bisa nerima adanya chaos saat benturan terjadi antara oposan dan bodyguard penguasa? Aduuh…. itu bagian dari sikluas pertarungan hidup.
Marilah dilihat saja siapa yang akan tumbang, pergerakan oposan atau libido kekuasaan aparatur pemerintahan… Kalo pemerintah bisa bertahan, well… pemerintahan berarti memang mumpuni dan benar adanya…
Teori ilmiah™ yang juga dipake neoliberal, marxis, anarkis, bahkan para moralis-skeptis yang doyan pada sains lho ini
alex®
Juli 1, 2008 at 12:20 am
kita butuh solusi-solusi dan terapi….
tapi kalo terapinya untuk membakar benda yg ngak jelas ngak asik ach….
lebih baik cari alterbatip solusi yang jitu….
buka mata, telinga dan lakukan… hehehehehhe
haru biru
Juli 1, 2008 at 12:04 pm
Para mantan mahasiswa/mahasiswi gelok, edan, kenthir dsb *BERSATULAH* Pakailah kondom yang baik dan bagus sebelum libido kerusuhan muncrat kemana-mana
Jiwa Musik
Juli 1, 2008 at 5:32 pm
hmm, mas dana..
sedih ya. kehidupan kita kehilangan orientasinya. sampai begini dan begitupun salah. demo BBM ga realistis, demo Pancasila ga syar’i, demo apalagi dong?? padahal hidup saat ini, memang bikin ingin menjerit. tapi jeritin apa dong, kalau salah mulu juga??
semua seolah tersumbat, sehingga meledak deh..
saya akan terus support mahasiswa kita.. tetap berjuang tapi semakin jernih.
dalam realistis atau tidak, segitu upaya mereka ya saya sadari dan terima. karena demo mahasiswa memang bukan tuk cari solusi, hanya tuk suarakan hati nurani.. bapak-bapak pejabat itulah yang harus cari solusinya..
maka jangan dibebani terlalu rumit adik-adik itu, segitu saja mereka sudah sulit loh.. materi tuk bayar kuliah saja sekarang mahal, masa materi tuk demo juga harus yang mahal?? buat apa kita bayar pejabat itu?
Menggugat Mualaf
Juli 1, 2008 at 5:35 pm
@Rafki RS
Saya juga tidak setuju menolak kenaikan BBM itu. Tapi mungkin dengan alasan yang berbeda dengan anda.
@Shinte Galeshka
OK, mari kita tidak sepakat tentang BBM itu. Semoga argumen-argumen kita berdua dapat menjadi bahan pertimbangan untuk semua.
Btw, sebenarnya kok argumen saya jadi sepertinya menolak kekerasan bulat bulat ya? *kebawa suasana sih* Itu jadi bukan yang saya maksud di artikel. Kekerasan sih nggak apa-apa, tapi jangan bakar mobil. Sebab demo sih emang keras.
@alex®
Yang mo diadu bertahan itu pemerintah apa kebijakannya lex? Kalo pemerintah sih keknya cuma 5 tahun deh. Apalagi di jaman ini.
@haru biru
Sip, eh keknya tadi dah dengar deh. *serasa dejavu*
@Jiwa Musik
Sebuha nasehat yang bagus.
@Menggugat Mualaf
Mbak tolong dipahami juga bahwa BBM itu naik di dunia, bukan di Indonesia doank. Tuh, malaysia aja dah naikin. Mosok demo demo cuma inginnya aja. Itu kok jadi seperti anak kecil. Pokoknya BBM turun, mau akibat jangka panjangnya merugikan tidak peduli. Mbok ya jangan gitulah, mahasiswa kan seharusnya bisa berpikir logis juga, bukan sekedar mengikuti kata hati (emosi).
Kalo soal sulit, semua juga merasakan sulit. Tapi ya mbok jangan kehilangan akal.
dana
Juli 1, 2008 at 6:30 pm
[...] Teruntuk Adik-adik Mahasiswa [...]
Anarki di RI « alex’s blog
Juli 2, 2008 at 4:29 am
ah andai kamu tau yang dilakukan supplier-supplier dana untuk demo mas..
terkutuklahsedih banget rasanya niat baik ditunggangi*berusaha tenang*
nindityo
Juli 2, 2008 at 7:31 pm
Bicara BBM, “apakah memang sudah seharusnya BBM itu naik?”
Tunggu dulu! Rasionalisasi ala Pasar Bebas itu sering cuma mengikut arus saja, Dan. Peristiwa Malari, krisis ekonomi pertengahan 1990-an, hingga tahun-tahun belakangan ini, selalu dengan rasionalisasi yang sama. Argumen yang sama yang bersandar pada kata : Lihatlah, negara lain saja begitu…
Apa iya? Apa benar bahwa keadaan makin baik? Apa benar bahwa tak ada cara lain utk bertahan, seperti apa yang sudah dilakukan negara-negara Amerika Latin yang menolak kebijakan sepihak dari arus kebijakan globalisasi begitu?
Semalam saya dengar SBY “meradang” karena dituduh takut perang. Well… buktikan. Nasionalisasi itu perusahaan asing, terutama penguasaan Blok Cepu yang jatuh ke Exxon dan ironisnya dikadalin oleh anak bangsa sendiri sebagai negosiatornya. Anak bangsa yang namanya Rizal Malarangeng itu.
Saya setuju saja subsidi dihapus. Subsidi adalah candu seperti halnya
agamaBLT dan BKM untuk mahasiswa.Saya punya keyakinan Another Is Indonesia Is Possible. Dan itu yang saya lihat ada harapan pada adik-adik mahasiswa
alex®
Juli 3, 2008 at 3:23 pm
Sebenarnya soal naik nggak naik itu sih gampang.
Hitung aja persediaan minyak kita, terus nasionalisasi, terus dihitung kira-kira kalo digenjot apa kuat? Kalo kuat sih memang kita bakalan seperti arab saudi sana, minyak sangat murah.
dana
Juli 3, 2008 at 7:05 pm
Eh, tapi kalo soal pengelolaan aset-aset bangsa (nggak cuma Minyak sih) saya setuju agar pemerintah dituntut lebih pro pada kepentingan negara ini.
dana
Juli 3, 2008 at 7:06 pm
Hehe ternyata saya tak sendiri toh.
*melihat alex berapi-api*
gentole
Juli 3, 2008 at 7:16 pm
@dana
emang materi demonya terasa ga realistis ya.
tapi apa sih yang masih realistis di negeri ini? hihihi.. kita bicara gini juga kadang terasa ga realistis loh. karena kita nyaris ga buat apa-apa juga. ya ga?
tapi.. setidaknya nih mas dana, kejadian kemarin bikin banyak pihak berpikir deh, itu aja kali ya manfaatnya. biar mas dana ga gosong sendirian nih. hehehe..
jujur, saya kok merasa ini sulit nih. kasihan mahasiswa kita, ini terkesan mahasiswa jadi dikebiri loh. pahami?
e, heran juga ya, ketika harga minyak booming di tahun 78an, kita bisa kaya raya. beli pesawat segala tuh dalam sejarahnya. lah, ini harga minyak tinggi kok kita melarat yaa?? hehehe, biar mas dana pusing…
Menggugat Mualaf
Juli 4, 2008 at 10:57 am
Jangan terlalu melihat masa lalu mbak. Kondisi sekarang ini ya memang begini.
Kalo mo salahin kenapa dulu bisa senang kalo booming mungkin adalah kenapa sih buat anak. Kan jadinya penduduk Indonesia bertambah terus. Coba nggak usah buat anak, pasti penduduk Indonesia tetap atau malah berkurang. Jadinya pasti sekarang kita bakal foya foya.
Eh, itu yang gampangnya sih mbak.
dana
Juli 4, 2008 at 11:01 am
hehehe..telat nemu tulisannya, ikut komen ah, biar dana ada yang temenin
setuju ama dana, taun 70-an kita kaya karena kita ga seboros sekarang, liat aja skarang berapa konsumsi kita sehari hari..gak bisa dong mbak anis disamain, beda kondisi beda waktu. Dulu salahnya kok gak mikir duitnya bakal abis, karena kaya malah dipake foya foya, bukannya dipake buat bangun sekolah ama teknologi, sekarang kalo dah cadangan seret, masih foya foya juga itu namanya apa dong?
mahasiswa itu macam anak baru gede, satu sisi dia bisa jujur, sisi lain dia bisa lugu, mungkin jujur nih mo jadi pembela rakyat (:D), tapi karena terlalu lugu gak tau dikerjain ama politikus. Lagian organisasi yang demo itu itu aja kok, kalo demo mega, elemen A yang maju, kalo demo SBY elemen B yang maju. lama lama demo jadi kayak konspirasi politik bukan idealisme. Tanya kenapa??
rajawalimuda
Juli 19, 2008 at 6:09 pm