Kebahagiaan
Jenar tampak gelisah, melirik ke jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 5 lebih 5 menit. Sementara dia masih berkubang dalam desakan lautan manusia di terminal bus way dukuh atas. “Ah… dia pasti akan menunggu lama “, resahnya. Terhembus sedikit nafas lega, ketika akhirnya sebuah bis datang juga. Dengan mengikuti arus akhirnya telah berada di bis, menuju tempat dia menunggu. Dia seorang mahluk cantik yang mempesona dalam kegamangannya menghadapi hidup. Sosok manusiawi dalam rentang kehidupan Jenar. Sosok yang nyaris merenggut semua cinta. Cinta yang tumbuh dalam dialog-dialog selama ini, di salah satu sudut Starbuck Sarinah.
“Halte Sarinah! Sarinah! ” Jeritan kondektur menyadarkan Jenar dari lamunannya. Setengah tersentak, dia mengikuti arus ke luar dari bus. Dan dengan langkah setengah berlari oleh rasa rindu akhirnya sampai di tempat di mana terjadi dialog-dialog yang membangkitkan rasa.
“Maaf ya? Aku telat lagi.” Kata Jenar ketika seoarang mahluk cantik dalam balutan pakaian hitam yang manis, menyambut dengan senyum.
“Ah… tidak apa-apa kok. Saya juga baru sampai. ” Sambut si Cantik, masih dengan senyumnya. Senyum yang tidak menyembunyikan apa-apa, hanya menyatakan hidup.
Jenar pun duduk di hadapan si Cantik yang telah duduk kembali. Setelah tadi berdiri menyambut, padahal sebenarnya tidak perlu . Jenar juga bakalan langsung duduk, tanpa basa-basi. Biasanya begitu, tapi entah kenapa saat ini beda.
Keheningan sejenak menyapa mereka berdua. Hanya tatapan yang bersahutan. Dibalur rasa rindu yang tidak ternyatakan.
Keheningan itu akhirnya terpecahkan oleh basa-basi yang benar-benar basi. Sebuah basa-basi yang tidak perlu di ceritakan karena sudah terlalu biasa. Dan akhirnya setelah basa-basi yang menjemukan itu, akhirnya Jenar dan si Cantik mulai tenggelam dalam dialog. Seperti yang sudah-sudah.
“Aku mau tanya serius, nih…. Ehem… ” dialogpun di buka oleh si Cantik
” Silahkan. ” Jenar menyiapkan diri.
“Begini, menurut versi mu. Sukses itu apa dan bagaimana?? Apa disini maksudnya adalah definisi sukses versimu dan bagaimana disini maksudnya adalah tindakan kamu untuk pencapaian sukses itu. “ Berondong si Cantik, langsung tanpa basa-basi lagi.
“Bentar, ” Jenar menenangkan diri dan berusaha mengingat., “Begini…sukses bagi saya adalah kebahagiaan hidup.”
“Ah… kamu kebiasaan deh, memberi pendapat hanya sepotong. Bisa lebih di jelaskan? “, sahut si Cantik tidak sabar.
“Intinya bagi saya adalah jika sudah bahagia berarti dah sukses. Eh…. tapi itu lebih ke arah filosofi hidup. Yang mau kau tanyakan yang versi awamnya atau bagaimana?” Jenar tersenyum memandang dalam ke mata si Cantik.
“Yang aku minta kan kesuksesan versi kamu. Tapi ya anggap saja yang tadi itu versi kamu. Nah, sekarang tolak ukur bahagianya dengan apa?? “, si Cantik terus menggali. Mengabaikan tatapan Jenar.
“Ya itu memang filosofi hidup saya. Dan tolak ukur bahagia itu adalah perasaan saya. Tidak ada ukuran pastinya. ” Jelas Jenar.
“Tindakan pencapaiannya??? “, Sambil nyeruput coffe lattenya si Cantik melanjutkan.
“Selama ini tindakannya adalah dengan berusaha agar diri dapat menerima kejadian yang baik atau yang buruk dalam kehidupan saya, sesederhana itu. “ Jenarpun ikut menyeruput coffe lattenya. Yah dalam selera kopi di Starbuck mereka memang sehati.
” Hem… Berhubung tolak-ukurnya adalah perasaan. Jika kamu mempunyai kelebihan dalam banyak hal dibanding temanmu maka masuk dalam kategori bahagiamu tidak?!!?” si Cantik tampak masih belum paham.
“Ya, bahagia saja. Tapi sebenarnya dapat juga tidak bahagia. Sekali lagi saya tekankan bahwa semua itu tergantung perasaan. ” Jenar kembali menjelaskan.
“Tolak ukurnya perasaan mu toh. Jadi bisa di anggap bahwa biarkan orang lain menangis, asal perasaanmu bahagia. Secara tidak langsung seperti itu Nar!?!?”.Tampak rona kekecewaan dari wajah cantik itu, kekecewaan disebabkan harapanya tidak terpenuhi.
“Lah, iyalah. Kan tidak mungkin rasa yang saya rasakan di rasakan menggunakan perasaan orang lain. Nah, biasanya kan manusia itu jika sedang mengalami hal baik menurut masyarakat umum baru dianggap bahagia. Tapi bukankah jika mendapat hal buruk pun bahagia, maka kita akan bahagia terus? Bagaimana sudah jelaskan?” Jenar kembali menikmati coffe lattenya, di sela dialog. Menikmati wajah cantik yang tampaknya masih belum puas.
“Versi-mu sama versiku berbanding terbalik sepertinya.” si Cantik akhirnya mulai membandingkan.Seperti yang sering terjadi dalam dialog mereka, “Sukses versi aku ada 2 hal. Satu, saat aku bisa menikmati segala sesuatu yg aku punya dgn rasa damai sejahtera. Dua, saat aku bisa membuat orang lain tersenyum senang dengan tindakanku.” Mata si Cantik berbinar bersemangat.
“Ternyata versimu yang kesatu kurang lebih sama dengan versiku. Tapi versimu yang kedua, membuat saya menjadi bertanya-tanya. ” Jenar menatap ke dalam mata yang berbinar itu.
“Pertanyaan apa??!” Si Cantik menantang, kembali tidak mempedulikan tatapan Jenar.
“Hem…begini…mungkin tidak ketika dalam usaha membuat orang lain itu senang, sebagai gantinya adalah dengan mengorbankan kebahagiaanmu sendiri. Bagaimana? Apakah masih dianggap sebagai kesuksesan? ” Jenar mempertanyakan setengah terpana melihat mata yang berbinar itu.
“Ya…itu aku anggap sukses. Saat aku sayang seseorang tapi ternyata dia lebih memilih wanita lain. Aku bisa ikut merasa bahagia.walau aku tidak bisa membohongi hatiku yang merasa sakit. Tapi aku sadar bahwa saat dia memilih orang lain untuk mendampingi, pasti dia punya pertimbangan khusus. Dan menganggap bahwa yang dipilihnya itu adalah sosok yg teristimewa, yang bisa membuat dia bahagia.” si Cantik diam sejenak, menikmati keterpanaan Jenar. “Seperti pada filosofi hidupku, yang kamu sudah sering dengar bahwa aku percaya saat tidak mendapatkan yg kau harapkan dalam hidup, percayalah Tuhan tengah menyelamatkanmu. Be a positive thinker! ” si Cantik tersenyum manis.
“Hem….”, Jenar menikmati senyum itu.
“Atau saat aku dulu ingin kuliah di universitas dan jurusan pilihanku, ternyata orangtuaku ingin aku menuruti keinginan mereka untuk kuliah di tempat dan jurusan pilihan mereka. Pada akhirnya aku ikut maunya mereka. Walaupun awalnya aku merasa tidak nyaman dengan pilihan itu. Tapi aku sadar telah memilih. Dan saat itulah aku merasakan telah menemukan jawaban dari pertanyaan lebih baik memilih yang kusuka atau menyukai yang kupilih. Dan aku ternyata memilih menyukai yang kupilih. Dan akhirnya aku lulus dan bisa bekerja di bidang ini, dan lambat-laun aku menyukainya. ” si Cantik kembali tersenyum mengenang kenangan.
Jenar hanya memandang tanpa kata. Meresapi setiap kata yang terlempar dari mulut mungil sosok cantik di depannya.
“Dan ketika aku melihat senyum orangtua-ku, bangga akan diriku. Kemudian dengan bangga pula menceritakan tentang aku di depan teman-teman mereka. Walau aku tahu bahwa yang aku capai sekarang ini, belum ada apa-apanya. Tapi aku tahu mereka tidak menuntut banyak dari aku. Asalkan aku bisa mandiri. Sudah merupakan hal yang jauh lebih baik buat mereka. ” si Cantik menyudahi dengan menatap Jenar, yang sedang meresapi makna.
Hening sejenak.
“Any comment?!?!” Akhirnya si Cantik tidak tahan dalam keheningan yang terbangun. Sebuah nyata meminta tanggapan Jenar, yang tampak terkaget.
” Hem… Kalo saya simpulkan dari paparanmu tadi, ternyata kamu sedang berusaha untuk bahagia dengan situasi yang tidak mengenakkan atau yang katamu membuatmu tidak nyaman. ” Singkat tanggapan Jenar.
” Yahhh….tidak nyaman memang, tapi dalam hal ini aku kan memilih untuk meyukai yang kupilih, dan bukannya memilih yang aku sukai. Dengan kata lain karena saya tidak bisa memilih yang saya sukai, maka saya memilih untuk menyukai yang saya pilih sekarang. Sebab itulah jalan satu-satunya ketika tidak bisa memilih yang di sukai bukan? ” si Cantik menatap Jenar, seolah menantang pemikiran.
“Oh, begitu. Tapi hal itu membuatmu merasa bahagia tidak?” tanggapan Jenar kembali hanya pendek.
” Yang pasti ketika akhirnya aku bisa melihat senyum orangtua-ku yang bangga akan diriku dan dengan bangga pula menceritakan tentang aku di depan teman-teman mereka. Maka momen itu merupakan hal yang lebih dari bahagia buatku. Karena ternyata usahaku untuk menyukai yang kupilih tidaklah sia-sia. ” Antusiasme terlihat meloncat dari binar mata si Cantik.
“Berarti saya menganggap bahwa akhirnya kamu bisa merasa bahagia. Begitu bukan?! ” Jenar meminta sebuah penegasan.
“Siap pak! ” angguk si Cantik setengah bercanda. Sebuah senyum teramat manispun hadir di antara mereka.
“Jadi ternyata yang menentukan kebahagiaanmu tetap adalah perasaanmu sendiri.” Jenar menyimpulkan. Sambil membalas senyum manis si Cantik. Dan kopi di depan mereka kembali dinikmati. Tapi sepertinya dialog ini masih terlalu dini untuk sebuah kesimpulan.
” Hem… semua itu jika sudut pandangnya adalah dari diri mereka. Tapi jika dilihat dari diriku sendiri, yakni dari yang kuterima di kantor ku. Maka ketika di tanyakan apakah aku bahagia? Maka jawabnya jelas tidak. ” Akhirnya yang belum terungkapkan itu di ungkapkan juga oleh si Cantik. Sebuah kejujuran.
“Kenapa?”, Jenar menyahut, membuka pintu lebar-lebar menjadi penampung keluh-kesah yang akan muncul.
“Aku telah tiga kali patah-hati di kantor tercinta ini. Pertama, dari segi gaji. Ketika aku bandingkan dengan teman-teman seangkatan waktu kuliah dulu. Ternyata walau jobdes dan tanggung jawab sama di kantor, dan join date paling duluan aku. Gaji mereka jauh lebih besar. ” Si Cantik tampak kecewa.
” Kedua, dengan gaji yang lebih kecil itu ternyata kerjaaan-ku jauh lebih semerawutan dibanding kerjaan mereka. ” si Cantik resah.
“Dan yang ke-tiga, di akhir kontrak pertama. Aku mendapat surat permanen palsu, dan akhirnya aku hanya dikontrak lagi untuk kedua kalinya. Dan akhirnya di bulan desember kemarin, aku baru terima surat permanen asli, dan betapa kecewanya aku ternyata itu tanpa ada kenaikan gaji. Sungguh mengecewakan sekali. ” si Cantik memandang Jenar seolah mencari dukungan.
Jenar hanya mengangguk kecil.
“Tapi aku berpikir bahwa mungkinTuhan memang hanya mempercayakan gaji sebanyak ini. Sebab memang aku hanya sanggup mengelola gaji segitu. ” Tampak si Cantik tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
“Eh… atau mungkin Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang kaya, sehingga aku tidak perlu kerja lagi. ” si Cantik menyambung dengan sedikit lelucon sekalian menghibur diri.
Jenar hanya tersenyum.
“Yah, menyenangkan diri sendiri tidak salah toh? ” si Cantik menuntut sebuah pembenaran dari Jenar.
“Yah, tidak salah kok.” Jenar membenarkan.
” Sebab jika kebanyakan mengeluh juga tidak ada solusinya, percuma. ” si Cantik melanjutkan, kali ini ditambah cengiran.
Jenar hanya tersenyum menanggapi, dan kemudian, “Sekarang saya mau memberikan petuah. Tapi pertama saya harus tahu dulu apakah usaha untuk menggunakan teknik menyenangkan diri sendiri itu sukses?”
“Ah! Teknik menyenangkan diri yang mana? ” tanya balik si Cantik.
” Itu loh, kan dalam curhatmu tadi di tutup dengan ungkapan bahwa kamu yakin bahwa Tuhan telah menyiapkan yang terbaik bagi kamu. Yang kamu jelaskan sebagai usaha untuk menyenangkan diri sendiri. Nah sekarang teknik itu berhasil nggak?” Jenar menjelaskan, tanpa memberi kesempatan si Cantik untuk sekedar berpendapat.
“Yah… selama yg aku lakukan seperti versi suksesku yang ke satu, maka aku sukses. Lagian kan dengan uang orang mungkin bisa bahagia. tapi tidak bisa beli damai. Makanya banyak orang yang ketakutan uangnya diambil. Jadi intinya adalah asal salah satu dari definisi-ku itu tercapai, maka berarti aku sukses. Begitu. ” Jelas si Cantik.
“Wah… jika begitu berarti kamu sebenarnya belum bahagia ,” Simpul Jenar menggelitik.
“Hem… begini ya Nar. Dari segi prestige yang aku dapat dengan kerja di sini telah membuat aku bangga dan bahagia. ” si Cantik berusaha menjelaskan.
“Walah, kamu plin-plan nih. Jadi sebenarnya kamu bahagia atau tidak sih?” Jenar mulai tidak sabaran.
“Jika ditinjau dari sudut lainnya maka akan ada penilain yang beda lagi kan?” si Cantik malah balik menanyakan.
“Ok. jika begitu berarti kamu belum bisa bahagia untuk semua kondisi, begitu nggak?” Jenar kembali berusaha menyimpulkan.
”Tidak juga ah…. ” Si cantik mulai defensif.
”Waduh, bagaimana ini ?!! Bikin bingung saja”, Jenar tampak makin gregetan.
“Aku bahagia kok. ” jawab si Cantik tak yakin.
” Jadi kamu sudah bisa bahagia untuk semua kondisi?” Jenar kembali mempertanyakan. Dan si cantik hanya tersenyum, tanpa menjawab.
“Hem… begini deh. Saya langsung ke petuah yang saya janjikan saja. Petuah pertama adalah bahwa sebelum kamu bisa mengakui kebenaran bahwa dirimu itu tidak bahagia maka akan sulit untuk menemukan kebahagiaan.” Jenar mulai dengan petuah pertamanya.
“Hem… Sebenarnya bahwa aku telah meratapi nasib di perusahaan ini, maka pastinya aku belum sampai ke tahap bahagia yang sesungguhnya. Tapi jika aku coba membandingkan antara kepedihanku dengan yang aku bisa dapat secara positif. Misalnya bagaimana orang tuaku bangga, aku dapat prestige, rekan kerja yang asyik,.kesempatan kerja di perusahaan besar dan bisa memberi kepada orang lain dengan hasil kerjaku. Maka semua itu dapat menutupi kepedihan ku dan pada akhirnya aku dpt bahagia walaupun tidak sepenuhnya atau100% . ” si Cantik kembali berusaha merumuskan kebahagiaannya, tidak memberi Jenar kesempatan untuk melanjutkan petuahnya.
Jenar hanya terdiam.
“So?? what do u think??” si Cantik kembali bertanya, karena Jenar tidak langsung memberi tanggapan.
“Berarti kamu belon bahagia. Sebab menurut aku bahagia itu harus 100 %, baru sah di sebut bahagia. Dan bahagia sesungguhnya tidak butuh lagi perbandingan untuk merasakannya. Nah ini adalah petuah saya yang kedua. ” Jenar tersenyum memberi petuahnya yang kedua.
“Sepertinya saya salah memberikan contoh deh. Sebab dari tadi contoh saya dikomplaint terus. ” si Cantik masih belum bisa menerima kebenaran yang di sodorkan Jenar.
“Perlu saya berikan petuah bijak ketiga nggak nih?,” Jenar malah menggoda rasa si Cantik.
“Wew?!? Coba diulang dari awal, apa aja petuahnya?!?! “si Cantik tampaknya tergoda juga untuk mengetahui kebenaran versi Jenar.
“Pertama, sebelum kamu bisa mengakui kebenaran ketidakbahagiaan dirimu, maka akan sulit untuk berbahagia.” , Jenar mengulang petuah pertama.
” Terus??? ” si Cantik menuntut.
“Yang kedua, bahwa jika bahagia sesungguhnya, maka kamu tidak butuh lagi perbandingan untuk merasa bahagia.” Petuah kedua diulang juga oleh Jenar.
” Bagaimana, dah diinget ? ” canda Jenar sambil dirinya juga berusaha meresapkan ke dua petuah yang datang begitu saja ketika dialog berlangsung. Tanpa pernah terencana sebelumnya.
Si cantik hanya tersenyum, sambil kelihatannya berpikir, dan kemudian dia menyatakan pikirannya “Satu hal sih yg aku tahu. Bahagia itu tolak ukurnya keadaan. Tapi cara kita memandang keadaan memperngaruhi kebahagian kita.”
“Betul, makanya saya berusaha agar keadaan tidak mempengaruhi lagi kebahagiaan saya. ” Kali ini Jenar cepat menimpali.
“Hem… berarti petuah mu itu tidak metal, dan tidak beken.” tuduh si Cantik.
“Ya, memang tidak metal, dan tidak beken, tapi benar.” tandas Jenar.
“Wew?!?! Dasar .. tetep saja kamu tidak mau mengakui kekalahan. ” si Cantik sudah mulai bicara kalah menang. Entah sejak kapan persoalan ini jadi urusan kalah menang baginya.
“Lah, kok kalah. Memangnya apa sih yang kamu tangkap dari kata-kata saya sebelumnya bahwa betul, makanya saya berusaha agar keadaan tidak mempengaruhi lagi kebagaiaan saya.” Ego Jenar agak tersinggung juga ketika di sebut telah kalah.
“Jadi sebenarnya, kedua petuah tadi itu mengarahkan diri ke kebahagiaan yang tidak dipengaruhi keadaan lagi. Atau bisa juga disebutkan bahwa dalam keadaan apapun maka tetap merasa bahagia. Kamu ingin merasakan kebahagiaan seperti itu tidak?” Jenar menjelaskan lebih lanjut.
“Yah, saya sih ingin merasakan yang begitu. Tapi kan kamu tahu sendiri bahwa roh memang penurut, tapi daging lemah,” timpal si Cantik, mengutip filosofi dari ajaran Kristen yang dia tahu. Tentang bagaimana bahwa kedagingan lah yang melemahkan kemurnian dari roh manusia, yang jelas-jelas berasal dari Tuhan.
“Yah, memang untuk mencapainya sangat sukar, sebab terbentur akan hal kedagingan itu. Saya sendiri saja dari dulu belon berhasil juga mencapainya.” Jenar mengiyakan akan sulitnya menggapai kebahagiaan yang tidak tergantung kondisi itu.
Si Cantik tampak tersenyum, menunggu kelanjutan cerita Jenar. Sebab dia tahu Jenar tidak hanya akan berhenti sampai tentang kesulitan itu saja.
“Tapi kan minimal hal itu bisa dijadikan cita cita. Dan saatnya nanti ketika mendekati sedikit saja dari yang di cita-citakan maka sudah akan lumayan berbahagia. Kalau mau bisa dikatakan telah semakin mendekati nilai kesuksesan hidup.”
Tampak si cantik masih merasakan ada yang mengganjal, dan setelah berpikir sekian saat. Maka terucap juga, ” Eh… Nar, kita flashback dulu. Mengenai defenisiku yang ke dua, saya menemukan contoh yang lebih tepat sepertinya nih.”
“Hem… silahkan, saya siap mendengar” Jenar membuka diri kembali.
“Untuk defenisi kedua itu, aku ambil contoh yang lebih tepat adalah Tuhan Yesus. Jika kita berpikir secara duniawi maka tidak akan ada orang yang rela mati untuk orang lain. Apalagi jelas-jelas bukan orang itu yang melakukan kesalahan, tapi malah dia harus dihukum mati … ya kan?!?! ” Si Cantik mengemukakan contoh yang baru terlintas.
“Hem…” Jenar mengangguk.
“Nah, demi manusia yang dikasihinya, Dia telah rela melakukan itu semua. Tapi akhirnya Dia bahagia, melihat umatnya sudah ditebus dan bisa berhubungan baik lagi dengan Bapa di Surga. Awalnya kan karena dosa manusia. Manusia sudah hina dan tidak layak lagi dihadapan Allah Bapa. Intinya adalah bahwa pengorbanan yg ada hasilnya dan dihargai akan membuahkan kebahagiaan untuk kita menjalani hidup.” Tampak kepuasan terpancar dari wajah si Cantik.
“Itu semua karena Yesus menurutku memenuhi apa yang saya cita-citakan itu, yakni dalam keadaan apapun merasa bahagia. Jadi saya yakin bahwa Yesus dari awal sampai akhir hidupnya terus-terusan merasa bahagia. Hanya kita manusia ini saja yang melihatNya tidak bahagia.” Jenar memandang si Cantik, yang tampaknya sedang merenung. Sebuah pemandangan yang sangat indah.
Dan keindahan yang terlihat dari si cantik dalam renungan harus terganggu ketika ringtone “Sang Penghibur – PADI.” terdengar dari HP si cantik.
“Oh, begitu, ya… ya… aku akan segera ke sana.” Kata si Cantik kepada si penelepon.
Jenarpun menangkap isyarat ini sebagai kesudahan dari dialog saat ini. Sebuah dialog tentang kebahagiaan. Hanya senyum di bibir ketika si cantik akhirnya berlalu, menjumpai entah siapa lagi. Entah dalam episode hidup yang bagaimana lagi. Dan janji terucap di antara Jenar dan si Cantik , bahwa dialog ini bukanlah terakhir. Sebab mereka berdua sadar bahwa hidup akan selalu mendialogkan mereka berdua. Suatu saat nanti, tidak jauh dari sekarang. Pasti.
“LJBU” pamit si Cantik.
“GBU” balas Jenar.
Jenar tampak tidak bahagia.


hm, kenapa tak dibuat cerita ini hanya dialog saja, tanpa ada pemaparan deksripsi. Mungkin itu akan lebih unik.
Ceritanya dan gaya kata -katanya sangat biasa. Dan agaknya, mas dana, deskripsi di awal itu terburu -buru. Langsung pada dialognya, jadi saya tak bisa memahami tentang latar belakang para karakter. Dan apa tujuan dialog itu? Apakah mereka memang selalu sengaja bertemu untuk berdialog seperti itu?
Lalu apa yang dirasakan jenar setelah dialog itu? apakah dia mendapat semacam pemikiran baru atau bagaimana..
nanti dilanjut
minta cerpen lagi, yang lain dari yang lain !
eMina
Mei 23, 2008 at 10:41 am
serasa sedang mendengar ceramah motivasi dari Pak Mario Teguh.
bahagia itu pilihan kita, terlepas bagaimana keadaan saat itu. apakah begitu Pak Dana?
salam zuper…
tukangkopi
Mei 23, 2008 at 1:26 pm
gak (ada wt utk) log in
Mei 23, 2008 at 1:37 pm
@eMina
Makasih atas sarannya min. Moga makin lama makin bagus nih.
@tukangkopi
Kira-kira begitu.
@gak (ada wt utk) log in
Lagi jalan-jalan aja.
dana
Mei 23, 2008 at 10:06 pm
Walah… Dana bikin pusing aja nih.
Bahagia itu kan ditentukan oleh keadaan, bagaimana pula melepaskan kebahagiaan dari pengaruh keadaan. Disaat kita berhasil melepaskan bahagia dari pengaruh keadaan, kala itu juga roh kita akan terlepas dari daging (alias almarhum) hehehe…
CY
Mei 24, 2008 at 9:05 am
mungkin saya lebih berbahagia menatap si cantik daripada mengajaknya dialog
daeng limpo
Mei 24, 2008 at 9:41 am
Atau jadi Budha, gimana bro?
danalingga
Mei 24, 2008 at 9:46 am
esensi
Mei 24, 2008 at 10:01 am
Kebahagiaan masing-masing orang memang berbeda…ada yang bahagia karena bisa membahagiakan orang lain. Dan bahagia tak mungkin seperti matematika, bahagia 100 persen.
edratna
Mei 24, 2008 at 10:05 am
saya juga sering mendapat kritik yang membangun dari salah satu ‘editor pribadi’ yang makin getol untuk berkomentar…
sekarang saya mau memberikan satu TIPS untuk kamu. Penulisan tanda koma setelah percakapan…
“Kamu dari tadi selalu saja bengong,” keluh Rini, “Ada apakah?”
jadi dipakai didalam tanda petik bukan setelah. Semoga makin bagus. Pemakaian tanda baca ini juga yang PALING SERING dikritik, oleh sebab itulah saya membaginya denganmu.
Sukses menulis yah!
SiMunGiL
Mei 24, 2008 at 12:57 pm
jenar, saya sering membayangkan bahwa kamu adalah sosok yang berani tampil beda; kritis; sesekali terkesan memberontak. sesekali aku juga ingin bertemu denganmu, jenar. berdialog dan bersiskusi meski hanya terkesan basa-basi. tapi aku yakin, bayangan saya tentang sosokmu belum sepenuhnya benar. apakah kamu tidak bahagia dengan sikap kritismu itu, jenar? aku yakin, kau pasti bahagia, kecuali ketika sebuah rezimmu menggasakmu hingga kau tidak lagi bersikap kritis. kamu pasti tidak bahagia. *halah nggak nyambung ya, mas dana, hehehehe *
Sawali Tuhusetya
Mei 24, 2008 at 2:02 pm
wah….
berarti hurt ending dong
Okta Sihotang
Mei 24, 2008 at 9:47 pm
@daeng limpo
Sepertinya begitu.
@edratna
Jadinya relatif ya bu.
@SiMunGiL
Maksih banget atas sarannya. Sering-sering aja ya.
@Sawali Tuhusetya
Wedeh, pak sawali ternyata pengamat Jenar.
@Okta Sihotang
Iya.
dana
Mei 24, 2008 at 9:58 pm
Membaca tulisan di atas saya semakin terobsesi utk semgat dalam segala hal utk meraih kebahagiaan. Jenar, sosok ideal masa depan. Terima kasih mas dana.
Farhan
Mei 24, 2008 at 10:22 pm
Wedeh, sama-sama han. Saya juga masih terus berusaha agar bisa seperti yang dikatakan Jenar itu.
dana
Mei 24, 2008 at 10:48 pm
dana ma danalingga tuh sama toh… kukira cuma mirip doang.. baru ngeh aku..
Suluh
Mei 25, 2008 at 6:05 am
Sama, tapi blog ini tidak bicara agama.
dana
Mei 25, 2008 at 1:47 pm
@dana: saya gak tanya soal itu kok
Suluh
Mei 25, 2008 at 6:09 pm
Sekedar info.
dana
Mei 26, 2008 at 7:25 am
datang lagi
hm, sekarang mengenai esensi kebahagiaan itu…
hm, kebetulan saya juga pernah membuat draft novel berjudul ‘Happiness”, tapi baru draft sampai sekarang, blm mulai sy tulis.
kayaknya, inti kisahnya sama, tentang orang -orang yang mencari kebahagiaan dan berusaha mengartikan ‘kebahagiaan’ menurut sudut pandang mereka masing -masing.
tapi saya tokohnya banyak, dan mereka punya definisi sendiri tentang ‘bahagia’.
karakter utama di novel saya itu bernama Lin, seorang gadis yang sangat polos dan cenderung naif. Dia menafsirkan kebahagiaan sebagai “bahagia adalah saat orang -orang yang kucintai merasa bahagia”.
begitu sempurnanya konsep ‘bahagia’ yang dia miliki, tapi kemudian dia bertemu dengan orang -orang yang akhirnya mengubah cara pandangnya tentang ‘bahagia’ dan tentang hidup.
dia menyadari bahwa kadang kita tak selalu bisa membuat orang lain bahagia, dan kadang kebahagiaan kita malah membuat orang lain tak bahagia. Itu karena sifat manusia yang cenderung egois.
kalo saya sih, hampir sama dengan Lin itu
kebahagiaan saya adalah apabila saya bisa membuat orang -orang yang saya cintai merasa bahagia.
eMina
Mei 27, 2008 at 7:28 am
Perdana…
ndog
Mei 30, 2008 at 8:22 am
@eMina
Berarti sama dengan gadis cantik itu. Novelnya kenapa nggak diselesaikan na?
@ndog
…
dana
Mei 30, 2008 at 7:26 pm
–mas dana–
sulit dipahami, ternyata sama ya?
belum. masih kejar-kejaran sama waktu dan media sih. Tapi sudah di schedule-kan buat di selesaikan kok. saya gampang bosen sih, malah berpindah membuat draft -draft novel lain
malah membuat novel horor, tapi itu juga di stop karena berbagai hal. sekarang mau konsen ngejar lomba -lomba aja
eMina
Mei 31, 2008 at 9:35 am
Yup, sama.
Weleh mo ikut lomba dkj 2008 toh?
dana
Juni 1, 2008 at 11:21 am
ceritanya, mau nyoba ikut lomba novel DKJ ituh, kan masih sampai agustus ya?
ndak ada novel baru sih, jadi saya re-make aja novel lama yang pertama ituh. mudah-mudahan ga jelek2 amat lah…
mas dana ikut juga dong !
eMina
Juni 2, 2008 at 1:06 pm
Semoga sukses na. Menurut kamu jelek, menurut jurinya kali bagus.
Kalo saya , jangankan buat novel, buat cerpen aja masih ngos-ngosan gini.
dana
Juni 4, 2008 at 8:35 pm